Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Me Before You: Hak untuk Mati Sama dengan Hak untuk Hidup?

April 17, 2017
Sebagai manusia kita diketahui memiliki hak untuk hidup. Tapi bagaimana hak untuk mati? Tentu terdengar sangat mengerikan apabila seseorang memintamu untuk membantunya dalam melaksanakan keinginannya untuk mati. Will Traynor pengusaha muda berusia 35 tahun yang menderita quadriplegia. Cacat seumur hidup dari bagian dada hingga kaki. Akibat kecelakaan motor yang dialaminya, Will harus menderita menjalani hidup di atas kursi roda. Karena sakit yang teramat, ia menginginkan untuk lebih baik mati ketimbang menjalani kehidupan yang hanya membuatnya sengsara ini. Percobaan bunuh diri yang menyeramkan membuat orang tuanya merasa bingung bukan kepalang harus melakukan tindakan apa. Mereka akhirnya menyepakati untuk menahan keinginannya Will melaksanakan kematiannya selama enam bulan. Sambil terus berjuang mati-matian untuk merubah pikirannya. Termasuk memperkerjakan perawat perempuan untuk mengawasinya selama hampir seharian penuh.

Louisa Clark, gadis energik berpenampilan nyentrik yang tidak memiliki bakat apa-apa akhirnya mendapat sebuah pekerjaan setelah pekerjaan satu-satunya sebagai pelayan kafe harus berhenti karena sang pemilik kafe menutup kafenya dan pindah ke suatu tempat yang jauh. Kehadiran Louisa sebagai perawat baru Will membuat seisi rumah kembali memiliki warna baru. Kembali memiliki secercah harapan bahwa Louisa dapat merubah keinginan Will dan membatalkan niatnya mendatangi klinik dignitas di Swiss.

Menurut pendapat pribadi saya yang cukup terlambat mengetahui novel ini adalah novel ini benar-benar layak untuk dibaca. Kamu tidak akan benar-benar meninggalkan buku itu jika kalau bukan ingin pergi ke kamar mandi atau perutmu sudah benar-benar sangat lapar dan minta diisi. Buku ini benar-benar memiliki magnet tersendiri untuk terus dibaca lembar demi lembar. Rasanya seperti tidak ingin berhenti. 

Sejujurnya, saya sudah tahu sejak lama tentang keberadaan novel ini. Tapi tidak benar-benar ingin mencari tahu banyak tentangnya karena lagi-lagi disebabkan oleh kurangnya informasi tentang novel apa ini sebenarnya. Saya pikir hanya tentang kisah cinta dua anak manusia. Tentu dengan tebal 600 halaman lebih saya membayangkan akan tenggelam dalam kebosanan jika isinya hanya perihal cinta melulu. Lalu, untuk mempersingkat pencarian saya mengumpulkan informasi tentang buku ini, saya memutuskan untuk menonton filmnya terlebih dahulu. Dan setelah menonton filmnya, saya sukses dibuat penasaran setengah mati bagaimana isi novelnya. Tentu jika kamu penggemar buku dan film, mereka adalah dua media berbeda yang masing-masing bisa dinikmati dengan cara yang berbeda pula. Jadi, meskipun sudah tahu ending ceritanya bagaimana dan keseluruhan filmnya seperti apa, tak mengurangi sedikit pun niat saya untuk tetap membaca bukunya.



Perasaan saya setelah menyelesaikan buku ini adalah sungguh buku ini sangat emosional. Kita dibawa menyelami tiap-tiap karakter dari tokoh yang dibuat oleh si penulis. Gaya penulisannya yang tidak melulu 'aku' sebagai si pemeran utama, membuat kita menyelami beberapa tokoh-tokoh dengan point of view mereka. Lembar demi lembarnya membuat kita sama-sama berharap (seperti semua tokoh dalam novel) untuk Will bisa merubah pikirannya. Mungkin karena kita benar-benar dibawa masuk kedalam setiap karakter dan tokoh-tokohnya. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil yang dapat membuat kita bisa jadi lebih menghargai hidup. Membuka cakrawala berpikir kita tentang betapa membosankannya hidup di dalam zona aman. Buku ini tidak melulu menceritakan soal cinta, bahkan menurut saya cinta-cintaannya hanya sekitar 20 persen dalam buku ini, tapi tentang bagaimana kamu tetap menjalani hidup yang tidak kamu inginkan, dan berkutat dengan pikiran bahwa hak untuk mati sama dengan hak untuk hidup.

Sempat menuai sedikit kontroversi saat filmnya pertama kali dirilis, tidak mengurungkan niat saya untuk tetap membacanya. Buku dan film ini dikecam oleh mereka para penderita difabel yang mengatakan bahwa buku ini telah menyampaikan sesuatu yang buruk pada dunia yang seolah-olah mengatakan bahwa kehidupan orang-orang seperti mereka layak dihentikan. Bahwa kehidupan seperti mereka sangat amat menyedihkan sehingga kematian pun tampak jadi lebih baik ketimbang kehidupan itu sendiri. Mereka yang masih memiliki semangat berapi-api untuk tetap hidup dan mengisi kehidupan dengan sesuatu yang positif, nampaknya cukup tersinggung dengan keberadaan buku ini. Tapi tentu saja, sebenarnya saya pribadi pun tidak ada kepikiran ke arah situ. Jika mereka bilang Moyes telah menyampaikan sesuatu yang seperti itu, sepertinya hal itu tidak ditangkap oleh saya. Saya berpikir jika buku ini sangat berguna bagi siapapun yang sehat atau sakit, penyandang cacat atau bukan, untuk bisa jadi lebih menghargai kehidupan yang telah dimiliki sekarang.

Terlepas dari semua kontroversi yang ada, buku ini dapat dinikmati oleh kita semua yang menginginkan bacaan baru yang mungkin lebih emosional. Saya tidak bisa menjamin kalau kamu bisa berhenti menangis dan terpukul di bagian akhir setelah beberapa jam. Tentu hingga sekarang pun masih menyisakan beberapa perasaan mual di perut mengetahui endingnya yang cukup menguras air mata. Kita bisa belajar memperbaiki diri lewat apapun dan darimana pun. Meski hanya dari kisah fiksi dalam buku.


Penulis:
Bahha Taqiya

______________
Image Credit: tumblr.com

Nasionalisme Romo Mangunwijaya dalam Novel Burung-Burung Manyar

April 15, 2017
Rama Mangun (dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa). Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami-istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Nama aslinya adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Mei 1929 dan meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999. Pengarang dengan kemampuan serba bisa alumnus Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959), Teknik Arsitektur ITB, Bandung (1959), Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966), Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978). Karya novel yang membawa namanya terangkat dalam dunia kesusastraan lewat penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996 yaitu novel berjudul 'Burung-Burung Manyar‘ (BBM), novel tersebut menjadi bagian penting dari kesustraan di Indonesia.




Romo Mangun lewat karya novel BBM memberikan kesan pada pembaca soal nilai-nilai moral, terutama nilai nasionalisme bahwa sesungguhnya pengabdian pada bangsa sendiri lebih penting dari pada berpihak pada bangsa lain. Nilai-nilai moral itulah yang membuat sastra mempunyai nilai tinggi sebagai kebudayaan batin suatu bangsa, sebab pada sastra terutama novel mengajak kita berpikir, merenung, tentang tindakan tokoh-tokoh dan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan itu. Sehingga, pembaca menemukan teladan ketika menikmati sebuah karya sastra terutama novel bagi kehidupannya.

Rasa nasionalisme merupakan perasaan yang ada dalam diri seseorang mencintai bangsa, merelakan diri dan berjuang untuk kepentingan dan nama baik bangsa. Sebuah rasa yang mungkin harus terus digali dan diperbaharui terus menerus agar tetap ada dan tidak menghilang. Dalam karya novel Romo Mangunwijaya “Burung-Burung Manyar” para pembaca diajak mengetahui bagaimana rasa nasionalisme itu berkembang dari masa perjuangan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan. Sebuah novel sejarah yang ditulis dengan awalan seperti halnya menonton pertunjukan wayang.

Romo Mangunwijaya dalam novel BBM melihat revolusi Indonesia dari segi Belanda (KNIL) lewat sepak terjang tokoh Setadewa yang sadar dan berdiri di pihak lawan. Romo juga menyajikan sebuah realita rasa nasionalisme pada masa penjajahan lewat tokoh Atik. Pergejolakan antara kedua tokoh tersebut terbalut dalam persoalan percintaan yang berbalut dengan polemik politik dan cinta terhadap bangsa sendiri. 

Sebuah persoalan nasionalisme yang sampai zaman sekarang mungkin perlu dipertanyakan pada setiap individu yang mengaku berbangsa, sudah sejauh mana rasa nasionalisme itu tumbuh pada diri kita masing-masing. 

Romo Mangunwijaya lewat tokoh-tokoh dalam novel BBM melabrak dan menggugat kebatilan, pengkhianatan berikut akibat yang ditimbulkan. Sehingga nasionalisme pada novel Burung-Burung Manyar memberikan cakrawala serta pengalaman bagi para pembaca yang ingin melihat berbagai sisi kehidupan tidak hanya dari satu sudut pandang.


Penulis: 
Rifa Nurafia


Bibliografi:
Rahmanto, B . Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo. 2001. horisononline.or.id, diunggah 31 Desember 2016, pukul 14.00 WIB.

______________
Image Credit : gr-assets.com

Nicholas Sparks Books To Movie

April 04, 2017

Nicholas Sparks adalah salah satu penulis favorite saya karena film-film yang diadaptasi dari novelnya, selalu juara. Berhubung karena saya adalah romance addict, karya-karya Sparks menduduki posisi paling atas daftar film yang saya suka. Jadi, buat kamu yang juga gemar dengan cerita-cerita romansa, simak beberapa pendapat saya tentang karya-karyanya. Barangkali bisa dijadikan rekomendasi untuk bahan bersantai di akhir pekan. Bersama keluarga, atau mungkin pacar kalau punya. Hihi

Sebelumnya disini saya tidak akan mengupas seluruh film yang telah diadaptasi dari karya-karya Sparks. Hanya ada beberapa saja yang akan saya sebutkan. Perlu kalian ketahui, disini saya juga tidak akan memposisikan diri saya seolah-olah seperti kritikus film. Saya akan memberikan pendapat yang asalnya benar-benar dari penilaian saya sendiri dan dari sudut pandang saya sendiri. Jadi untuk kamu yang berbeda pendapatnya dengan saya, tak apa. Sebab isi kepala manusia memang tak akan pernah sama. Hehe. 

Here we go...

1. The Best of Me

Kalau kalian sering baca review film-film terbaik dari Sparks, kalian pasti lebih sering menemukan mereka menulis judul The Notebook di urutan pertama. Tapi tidak bagi saya. The Best Of Me sukses menempati urutan pertama dalam list yang saya punya. Meskipun banyak kritikus film mengejek akting Dawson dan Amanda muda di film ini, saya rasa chemistry yang mereka buat cukup membuat orang yang melihatnya tenggelam dalam kisah cinta remaja yang sangat mempesona. Dilatarbelakangi perbedaan status sosial, Sparks mampu membuat konflik yang mereka hadapi begitu menyayat hati. 20 tahun tak bertemu dan masing-masing telah melanjutkan hidup, kedua sejoli ini kembali dipertemukan oleh cara yang tidak biasa. Pada akhirnya kita memahami bahwa cinta sejati akan selalu terukir hingga lubuk hati. Dan semesta akan selalu membantu mereka yang memang ditakdirkan bersama. Meski dalam ruang kehidupan yang berbeda.

2. Safe Haven

Di film ini, Sparks berusaha memperlihatkan sisi lain dari kemampuannya menulis cerita romansa. Nuansa thriller yang terdapat di dalamnya, membuat kita tak meyakini apakah ini benar-benar karya seorang Sparks yang selama ini kita kenal. Masih dengan unsur pemandangan yang begitu indah, Sparks membawa kita menyelami kehidupan desa kecil di tepi pantai. Pelarian Katie ke desa kecil itu mempertemukan ia dengan Alex. Seorang duda anak dua yang digambarkan begitu menyayangi keluarga. Selanjutnya cerita klasik pun terjadi, dua orang yang saling jatuh cinta karena sering bersama. Yang paling saya suka adalah chemistry yang dibawakan oleh dua sejoli ini benar-benar membuat saya jatuh cinta pada karakter yang masing-masing mereka bawakan.

3. The Last Song

Selanjutnya ada The Last Song. Sparks sepertinya sering sekali membawa unsur perbedaan status sosial dalam karya-karyanya. Terbukti tiga dari karyanya (The Notebook, The Best Of Me, dan The Last Song) selalu memuat unsur perbedaan status sosial diantara sejoli yang ia ciptakan. Lagi-lagi berlatar belakang pantai dan desa kecil, Sparks menyajikan pemandangan yang cukup indah. Tapi di film ini, Sparks tidak hanya mengangkat kisah cinta yang seperti biasanya ia buat. Ia membuat berbeda dengan menambahkan cukup banyak konflik keluarga. Dengan nuansa musik yang juga indah, telinga kita dimanjakan oleh beberapa permainan piano yang dibawakan oleh Ronnie. Seorang gadis yang mahir memainkan piano namun memilih untuk tidak memainkannya lagi karena membenci ayahnya yang tidak lagi bersama dengan sang ibu. Tawaran untuk masuk Julliard ditolaknya mentah-mentah hanya untuk menuruti sang ego. Namun bukan hanya kisah cinta romantis dengan pasangan yang saya suka disini, saya pribadi lebih tersentuh dengan banyaknya adegan cinta ayah-anak yang mereka bawakan di film ini.

4. A Walk To Remember

Kisah cinta masa-masa SMA memang yang paling indah, bukan? Dengan latar belakang kehidupan semasa sekolah membuat kita menyelami kembali kehidupan kita yang lalu. Karakter Jamie dan Landon yang sangat bertolak berlakang, tidak menjadi halangan untuk mereka bisa saling jatuh cinta. Landon dengan segala kepopulerannya di sekolah, dan Jamie seorang anak perempuan biasa yang barangkali setiap anak disekolahnya lebih mengenalnya sebagai gadis yang aneh. Kisah cinta mereka diuji saat Landon yang mulai benar-benar jatuh hati, mengetahui bahwa hidup Jamie tidak akan lama lagi. Sungguh kisah cinta yang sangat mengharukan.


Itu adalah 4 film terbaik dari daftar yang saya punya. Meskipun beberapa orang bilang karya-karya Sparks terlalu monoton dan ceritanya selalu memiliki unsur kesamaan diantara cerita-ceritanya yang lain, tetapi Sparks telah memiliki tempat di hati saya. Barangkali kalian pun memikirkan hal yang sama. Karya-karyanya selalu menjadi yang paling saya tunggu. Sebab sebagai pecinta romance, cerita-cerita yang dibuat oleh Sparks selalu berhasil menyita imajinasi saya akan cinta. Sungguh cinta memang sumber inspirasi yang tak ada habisnya.


Penulis:
Bahha Taqiya 


_________________
Image credit:
 
Copyright © MudaBicara! - Youth Community | Designed by OddThemes