Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Perpustakaan Dalam Genggaman

July 30, 2018

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Di era yang serba digital seperti saat ini, kita dituntut untuk serba canggih dan mengikuti perkembangan zaman, apalagi dalam menunjang dunia pendidikan, sudah saatnya kita ubah pola pikir kita dengan belajar lebih mudah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang berkembang saat ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa kecanggihan teknologi khususnya internet saat ini sudah merambah ke penjuru dunia, masyarakat serta siswa membutuhkan koneksi internet sebagai sarana komunikasi serta informasi yang instan dan cepat,  hal itupun juga tak lepas dari peran perpustakaan sebagai pemberi informasi. Nah, kali ini kita akan membahas tentang perpustakaan online yang mungkin sebagian dari kita masih awam mendengarnya.

Perpustakaan merupakan sarana yang sangat vital dalam membangun SDM (Sumber Daya Manusia) yang cerdas. Perpustakaan dari zaman ke zaman mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Hal itu dipengaruhi oleh kebutuhan para pembaca dan kemajuan zaman yang sangat pesat, perpustakaan yang dulu bersifat fisik sekarang berubah menjadi perpustakaan yang bersifat maya, itulah bukti bahwa zaman ini adalah zaman modern.

Mungkin di kalangan masyarakat maupun siswa, perpustakaan online sangat membantu dalam mencari referensi tugas, apalagi bagi mahasiswa tingkat akhir, yang sibuk menyusun skripsi.  Banyak sekali kendala yang dihadapi dalam mencari sumber referensi, mulai dari susahnya mencari sumber yang terpercaya, sampai sumber yang terbatas. Padahal banyak situs-situs jurnal dan perpustakaan online gratis yang bisa kita manfaatkan. Contohnya saja pada situs perpustakaan online ”Google Scholar atau di Indonesia disebut Google Cendikia. Situs ini diluncurkan pada tahun 2004, 14 tahun yang lalu. Google Scholar ini merupakan situs pencarian yang dapat menyediakan berbagai macam data/materi pelajaran yang bersifat akademis dalam berbagai format publikasi.

Source : buysellgraphic.com (edited)

Di situs perpustakaan online gratis ini k
ita dapat mencari berbagai macam bahan dari seluruh bidang ilmu dan referensi dari suatu tempat. Google Cendikia dapat menyajikan makalah, tesis, buku, artikel, abstrak, jurnal, pernerbit akademis, dan masih banyak lainnya.

Bukan hanya itu saja, masih banyak lagi situs-situs perpustakaan online lainnya yang dapat diakses melalui komputer dengan akses internet, seperti. Perpustakaan Nasional Indonesia, Academia, Indonesian Publication Index, Literatur, Wiley Online Library, Research Gate, Library Genesis, Open Library, OAPEN Library dan masih banyak lagi.

Lebih dari itu, perpustakaan online memberi banyak keuntungan bagi kita sebagai penunjang minat membaca, berikut keuntungan membaca di perpustakaan online.

1. Memuat Buku Dari Seluruh Perpustakaan di Indonesia
Karena pengelolaannya bersifat resmi langsung dari pemerintah, maka masyarakat dapat mengakses secara bebas baik buku-buku yang bersifat informasi umum hingga buku-buku sejarah yang mungkin memuat informasi yang sebetulnya belum kita ketahui. Selain itu, buku-buku yang dimuat juga berasal dari seluruh Indonesia, yang tentunya sangat kaya akan Informasi.

2. Menghemat Waktu
Bayangkan saja jika kita sedang dikejar deadline tugas kuliah ataupun tugas sekolah yang sangat dekat. Tidak sempat bolak-balik perpustakaan dan ada batasan jumlah buku yang dapat dipinjam, tentu hal ini akan memakan banyak waktu untuk menyelesaikan tugas tersebut. Namun perpustakaan online ini seolah menjawab itu semua. Tidak ada lagi bolak-balik, tak ada lagi batasan meminjam, yang ada hanya tinggal bersiap di depan laptop atau perangkat lain. Kemudian membuka web perpustakaan online dan mulai mencari bahan referensi secara praktis di sana.

3. Pencarian Lebih Cepat
Sedikit jengkel bukan, bila buku yang kita cari tak kunjung ditemukan. Sistem website akan memudahkan pencarian buku di perpustakaan online ini. Pengguna cukup memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan informasi yang sedang dicari, maka semua buku yang dimuat akan disesuaikan dengan informasi terkait. Lebih mudah bukan dibanding harus naik turun tangga dan berkeliling mencari buku di perpustakaan konvensional.

4. Sumber Referensi Terpercaya
Perpustakaan online ini konten yang di update telah memiliki izin resmi pemerintah. Dengan begitu,  ia bisa dijadikan sumber referensi online terkuat. Karena buku-buku dan informasi yang ada di sini tentunya sama persis dengan yang ada di perpustakaan aslinya.

5. Menambah Minat Membaca
Membaca tidak harus berada di ruang perpustakaan, membaca bisa kapan saja, membaca tidak perlu repot meminjam buku, Tentu hal ini akan menambah minat membaca bagi masyarakat. Selain mudah dan praktis, informasi yang dimiliki juga kuat, menambah wawasan, serta intelektualitas.

6. Mencerdaskan Masyarakat
Setelah minat baca sudah tumbuh dimasyarakat. Maka tidak menutup kemungkinan perpustakaan online ini memiliki kedudukan yang sejajar dengan sosial media di hati masyarakat. Bila masyarakat sudah membiasakan membaca, maka tujuan pembukaan UUD dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa akan segera terealisasikan. Tujuan utama perpustakaan online ini adalah “Menciptakan negara yang maju, melalui masyarakat yang cerdas".

Namun diantara semua kelebihan dan manfaat itu, tak pelak membuat perpustakaan online ini jauh dari kekurangan. Ada beberapa masalah yang mungkin terjadi pada perpustakaan ini seperti Database Error (Dapat menyebabkan file-file buku tidak dapat diakses bahkan hilang), serangan Hacker (Terjadi bila keamanan pada sistem hostingnya lemah), dapat dijadikan target penyadapan oleh negara lain, akan muncul beberapa bug yang akan menganggu kinerja, tidak tersedia dalam bentuk aplikasi, mematikan pekerjaan bagi pihak-pihak yang bekerja di perpustakaan asli, kurangnya publikasi sehingga tidak semua lapisan masyarakat tahu akan hal ini.

Dengan adanya perputakaan online ini membaca buku pun akan semakin seru, sudah saatnya siswa maupun masyarakat indonesia dikenalkan dengan tekhnologi yang satu ini, demi menunjang minat baca dan menciptakan generasi-generasi penerus bangsa yang memiliki intelektual dan integritas tinggi.


Penulis:
Yuda Fajaka
Mahasiswa Pascasarjana 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)
Jakarta


Haruskah Kita Bersaing?

February 25, 2018

Tahukah Anda salah satu biang kerumitan manusia dan dunia? Ya, hal sangat kecil bahkan diremehkan yang bahkan tidak akan Anda sadari.

Hal itu ialah jargon di kampus, sekolah, atau lembaga-lembaga lainnya:

"Menghasilkan Lulusan yang Mampu Bersaing di Kancah Nasional dan Internasional"

Bersaing?

Sejak saat itulah wajah dunia yang lembut berubah menjadi kasar dan kejam. Wajah dunia yang senantiasa melayani berubah menjadi wajah dunia yang harus dikejar, bahkan sikut-sikutan hanya untuk mendapatkan setetesnya (bagian kecil).

Persaingan tentunya akan membentuk pribadi egoistik dan keakuan. Egois, mementingkan diri sendiri. Inilah biang kerok kerusakan dunia meliputi perang, korupsi dan hal-hal kejam lainnya.

Di sekolah, anak-anak disiapkan agar siap bersaing, tahan banting dalam pertarungan, mengupayakan segala kemenangan.

Ingatlah, di balik kemenangan selalu ada kekalahan, selalu ada yang tersakiti. Ingatlah, di balik peperangan selalu ada yang menangis. Bukan yg berkuasa, tapi rakyat kecil-lah yang menangis. Yang berperang adalah para penguasa tetapi rakyatlah yang menanggung beban dan akibatnya.

Ya, tak terpungkiri bahwa peperangan biasanya dilakukan berdasarkan ego-ego penguasa. Tanyalah rakyat mereka. Apakah mereka ingin berperang? Tentu saja tidak, bukan?

Sudah saatnya kita menyadari segala hal kecil, merombak segalanya dari hal terkecil. Sudah selayaknya lembaga pendidikan menyadari hal ini.

Bagaimana jika semua lembaga pendidikan mengganti jargonnya menjadi:

"Menghasilkan Lulusan yang Mampu Bekerja Sama di Kancah Nasional dan Internasional"

Apa hasilnya? Terbentuklah pribadi-pribadi penyayang berhati lembut, tidak egois, tidak ingin menang sendiri, dan mampu bekerja sama, serta cinta damai.

Pendidikan modern harus berkaca kembali kepada pendidikan tradisional, sistem perdesaan yang mengedepankan gotong royong dan kerja sama. Lihatlah kebahagiaan di balik mata mereka, jauh dari hingar bingar kebencian dunia

Salam damai :)



Penulis:
Ridho Destianto




__________________
Image credit : educationusa.state.gov

LINE Membantu Proses Belajar

February 02, 2018

LINE – Tidak sedikit orang yang mengenal aplikasi ini. Bahkan jika kita periksa daftar aplikasi para pengguna smartphone, Line akan ikut serta di dalamnya. Aplikasi ini menghadirkan banyak manfaat termasuk bidang pengetahuan. Pengetahuan bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Termasuk bisa didapatkan di Line ini. Kita bisa membuka aplikasi ini untuk mendapatkan informasi baru dari berbagai sumber, termasuk berita-berita terbaru.

Sebagai seorang mahasiswa Pascasarjana sekaligus Guru di salah satu SMA swasta Jakarta, saya pun tidak ketinggalan untuk memiliki aplikasi ini. Aplikasi yang memiliki banyak manfaat tidak hanya berupa informasi yang bisa didapatkan, tetapi Line bisa digunakan sebagai forum pembelajaran di luar kelas. Sebagai seorang guru, kita harus siap menjadi fasilitator untuk anak didik kita di mana pun saya berada. Hal ini terjadi pada saya dan mungkin terjadi pada kalian yang berprofesi seperti saya, yaitu sebagai guru. Jika di sekolah kewajiban kita mengajar, maka ketika kegiatan belajar berakhir kita akan tetap menjadi fasilitator bagi anak didik kita. Hal ini membuat saya mengandalkan aplikasi Line. Line membantu saya dan anak didik saya berkomunikasi jarak jauh hanya dengan mengandalkan smartphone dan kuota internet. Mereka bisa bertanya mengenai pelajaran yang kurang dipahami di luar sekolah dengan aplikasi Line dan saya bisa menjawab pertanyaan lewat aplikasi ini. Jelas hal ini memudahkan bagi saya sebagai seoarang guru dan membantu bagi anak didik saya yang kurang paham ketika kegiatan pembelajaran di sekolah. Berkomunikasi dengan lebih dari satu orang bisa dipermudah dengan Line. Di aplikasi Line terdapat grup yang bisa dibuat oleh kita dengan mudah dan di grup ini kami bisa saling bertanya dan menjawab. 

Grup Line ini sangat bermanfaat bagi mereka anak didik kita yang kurang percaya diri jika bertanya di kelas. Biasanya mereka akan bertanya secara tidak langsung kepada guru lewat aplikasi Line ini. Sebagai seorang guru, saya menyukai aplikasi ini, karena dengan aplikasi ini mereka anak didik saya belajar bertanya dengan bahasa tulisan. Bahasanya yang mereka gunakan lebih baik dan sopan dari pada bahasa lisan. Selain itu bagi anak-anak yang kurang percaya diri untuk bertanya di kelas mereka bisa lebih aktif di aplikasi ini dengan pertanyaan-pertanyaannya. Tidak masalah bagi saya jika mereka bertanya di dalam kelas atau di aplikasi ini, karena bagi saya yang penting mereka sudah berani bertanya. Ketika di dalam kelas mereka berani bertanya di depan teman-temannya, ketika lewat aplikasi ini mereka berani bertanya dengan mengupayakan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Selain sebagai alat komunikasi, Line juga bisa digunakan untuk mencari informasi-informasi berupa berita terbaru. Biasanya hal ini menjadi pembahasan kita di kelas ketika pembelajaran berlangsung. Hal-hal positif yang ada di berita tersebut bisa kita ambil hikmahnya, dan hal-hal negatif bisa kita tinggalkan. Bahkan informasi yang ada di Line bisa digunakan sebagai salah satu media pembelajaran. Misalnya, belajar fakta dan opini. Kita bisa menentukan fakta dan opini tersebut dari berita yang diambil dari Line. Hal ini memudahkan bagi anak didik, mereka tidak perlu membuka berita-berita lain di internet, hanya dengan membuka Line mereka bisa mendapatkan berita-berita tersebut. 

Membuka berita-berita di Line pun harus tetap dalam pengawasan guru, karena kita harus bijaksana dalam memilih berita yang layak dibaca bagi anak didik kita. Selain berita hiburan-hiburan di Line pun bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Hiburan-hiburan yang ada di Line bermacam-macam, ada film, drama, dan lain-lain. Dari drama atau film bisa diambil pesan atau amanat yang ada di dalam film tersebut. 

Sebenarnya selain aplikasi Line ini banyak juga aplikasi lain yang bisa digunakan, tapi ada sedikit perbedaan dibandingkan dengan aplikasi-aplikasi lain. Aplikasi Line ini bisa digunakan tanpa harus tahu nomor telepon pengguna Line yang lain, hanya dengan mengandalkan ID Line kita bisa berteman dan saling berkomunikasi. Bagi saya, aplikasi ini memudahkan dalam proses kegiatan belajar mengajar. 


Penulis:
Dini Seftia Rohmatin
Mahasiswa Pascasarjana 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)



Teknologi Pembentuk Pendidikan Masa Kini

February 02, 2018

Nah, di sini kita akan berbicara masalah tentang teknologi yang sangat membantu dalam media belajar dan mengajar yang semakin mudah digunakan. Berbagai teknologi media pembelajaran juga telah menjadi trend dan bahkan membantu sumber-sumber belajar mampu melewati batas-batas wilayah hingga ke seluruh dunia.

Menurut Commission on Instruction Technology (CIT), “Teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis. bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya”. Teknologi pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan mengajar untuk suatu tujuan pembelajaran khusus, serta didasarkan pada penelitian tentang proses belajar dan komunikasi pada manusia yang menggunakan kombinasi sumber manusia dan non manusia agar belajar dapat berlangsung efektif dalam pembelajaran. Jadi, teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan yang modern ini, karena kemajuan pada teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia sering kali mengunakan teknologi yang berupa laptop, speaker dan proyektor untuk menayangkan materi apa yang akan disajikan oleh guru di kelas. Misalnya, pada materi drama. Pada materi drama inilah guru bisa menampilkan materi dan contoh video drama yang akan ditayangkan kepada murid-murid di kelas. Lalu, dikaji dan analisis bersama-sama apa maksud dan amanat yang terdapat dalam drama tersebut. Kemudian, guru memberikan tugas kelompok kepada siswa untuk mencari drama yang ada di internet melalui situs Youtube yang sudah disarankan oleh guru di kelas.  Kemudian, dianalisis bersama kelompoknya lalu dipersentasikan di depan kelas pada pertemuan berikutnya.

Maka dari itu, setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi pendidikan dan kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Khusus pada bidang teknologi dalam pendidikan dan masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam beberapa tahun ini. 

Kalau kita berbicara tentang teknologi, saat ini teknologi sudah menjadi lebih maju dan berkembang keberadaannya. Semua orang dalam kehidupan sehari-hari pasti menggunakan teknologi. Selain itu, pada zaman digital yang saat ini semakin modern, setiap manusia dan begitu pula setiap siswa yang  dituntut untuk selalu mengikuti segala perkembangan yang ada, contohnya pada teknologi. Kita ketahui teknologi yang selalu mengalami perkembangan yang begitu pesat (cepat) yaitu, dimana masa yang serba baru memberi perubahan yang sangat cepat dan perkembangan teknologi yang sangat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga kita dikenalkan dengan apa itu internet dan dari perkembangan teknologi internet inilah yang dapat menimbulkan dampak bagi pembentukan kepribadian siswa, karena siswa saat ini telah banyak dituntut untuk mengenal penggunaan teknologi internet. Bahkan banyak sekolah saat ini yang sudah menerapkan teknologi internet sebagai bagian dari kurikulum pendidikannya seperti E-Learning, Perpustakaan Online, Pembelajaran Berbasis Komputer, dan Diskusi Online. dimana untuk mencari bahan belajar bisa dengan mudah diakses lewat internet. dari penggunaan internet oleh siswa tentu akan membawa pengaruh bagi pembentukan pribadi siswa.

Pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan;

1. Pembelajaran Berbasis Komputer

Semua orang pasti mengetahui apa itu komputer. Komputer merupakan alat yang berbentuk kotak atau persegi empat, yang disebut perangkat keras yang sering berada diruang multimedia, laboratorium bahasa dan kantor sekolah. Dalam bidang pendidikan, pengenalan pada teknologi ini sangat penting. Karena dapat mengolah tulisan, membuka internet, dll. Sekarang ini, untuk pelajar harus bisa mengoperasikan komputer dengan baik dan benar. Karena, ujian nasional sudah menggunakan komputer untuk menginput datanya.

2. Perpustakaan Online

Adalah perpustakaan yang dikelola secara online di internet, untuk berbagi bahan bacaan atau bahan referensi bagi orang-orang yang ada di seluruh dunia dalam bentuk digital. Menurut Gatot Subroto, perpustakaan digital adalah penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Atau secara sederhana dapat dianalogikan sebagai tempat menyimpan koleksi perpustakaan yang sudah dalam bentuk digital. Nah, di sini para pelajar bisa mencari referensi buku yang berbentuk digital yang berada di luar negeri sebagai bahan referensi tambahan untuk membaca. Maka di sini peran guru sangat penting dalam membimbing siswanya.

3. E-Learning

Merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada zaman digital ini. Banyak juga pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan yang sifatnya memfasilitasi siswa. Misalnya, kini siswa dapat mengakses materi pelajaran berupa video, gambar dan mengerjakan tes dan latihan soal secara online. Dengan begitu, siswa tidak perlu lagi membawa buku latihan soal yang tebal. Jika siswa merasa kebingungan saat belajar atau mengerjakan tugas, siswa juga bisa bertanya kepada guru yang kompeten melalui aplikasi belajar online di media sosial.  Berkat teknologi, belajar dan mengajar dapat dilakukan kapan dan dimana saja.

4. Diskusi Online

Adalah dimana para pelajar dapat mendiskusikan suatu pelajaran tanpa harus bertemu atau berkumpul di suatu tempat. Biasanya ini sering dilakukan oleh guru untuk berkomunikasi dengan siswa melalui grup Whatshap atau Line untuk membahas suatu pelajaran secara online.

Jadi, teknologi pendidikan adalah studi dan praktek yang sesuai dalam memberi kemudahan belajar, penggunaan dan pengelolaan proses pada sumber teknologi yang tepat. Maka, dunia pendidikan pada perkembangan teknologi dan informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi, dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Banyak hal, yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Jika dilihat pada saat sekarang ini, perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Namun di sisi lain, juga memiliki dampak negatif bagi sistem pendidikan di Indonesia. Maka dari itu, peran pembimbing atau fasilitator pada anak di sekolah dan di rumah sangatlah penting, agar anak tidak terjerumus dalam hal yang negatif di dunia teknologi dan internet.


Penulis:
Syahla Farhaini
Mahasiswa Pascasarjana 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)


______________
Image Credit: infobae.com

Privasi Guru Diabaikan, Guru Wajib Melayani 24 Jam?

November 29, 2017

Beberapa bulan yang lalu, publik dihebohkan dengan berita seorang guru yang memukul muridnya di dalam kelas. Kejadian tersebut bukan pertama kali terjadi di dunia pendidikan. Di media onlinepun menjadi viral. Mendidik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan yang kapanpun dapat dilakukan. Mendidik memang tugas guru di sekolah. Lalu, bagaimana saat siswa di rumah? Apakah guru harus melayani 24 jam? Sesuaikah tugas guru dengan gaji yang didapat?




Mendidik merupakan aktivitas fisik maupun mental yang dilakukan seorang guru.  Guru menjadi suatu profesi yang menantang saat ini. Dikatakan menantang karena perkembangan zaman yang semakin pesat. Kemajuan teknologi yang canggih membuat perubahan besar bagi seluruh manusia khususnya peserta didik. Penggunaan kurikulum 2013 dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) yang berisi bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dampak dari penggunaan teknologi bisa dalam bentuk positif maupun negatif tergantung pada siapa pemakainya. Perubahan perilaku positif misalnya menggunakan media facebook sebagai media untuk belajar dengan menyerap ilmu yang bermanfaat untuk diaplikasikan dalam hidupnya. Sebaliknya, perubahan negatif yang terjadi yaitu pemakaian yang tidak semestinya misalnya tidak bisa lepas dari gadget karena bermain games, malas mengerjakan PR, kemudian banyak kejahatan yang terjadi terutama berkaitan dengan sosial media. 

Seorang guru memiliki peranan besar dalam menghadapi perubahan zaman peserta didiknya. Khususnya dalam hal mendidik siswa. Penggunaan teknologi semakin pesat seringkali membuat orang tua risau dengan perkembangan anaknya. Guru bertanggung jawab terhadap perilaku siswa ketika siswa berada di lingkungan sekolah. Jika siswa berada di luar sekolah berarti sudah konteks lingkungan masyarakat. Lain halnya, saat siswa berada di lingkungan rumah.

Mendidik menggunakan teknologi yang canggih tidak mudah. Salah satu contoh kemajuan teknologi bidang komunikasi yaitu aplikasi whatsapp. Saat ini whatsapp memiliki fitur canggih yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsi semestinya. Kemudahan komunikasi mengirim pesan dapat bermanfaat untuk semua elemen masyarakat. Hanya dengan memiliki pulsa paket internet, semua dapat diakses. Salah satunya komunikasi antara orang tua murid dengan guru. 

Berdasarkan pengalaman penulis dan tergolong dalam teori constructivism. Di mana teori constructivism adalah suatu komunikasi melalui satu sosial komunitas. Saya menjadi seorang guru honorer di salah satu sekolah swasta. Miris memang, saat guru sudah selesai dalam urusan di lingkungan sekolah, terkadang terdapat orang tua murid yang mencari tahu lebih dalam mengenai perkembangan anaknya saat di sekolah. Guru menjadi orang tua saat di sekolah tetapi guru juga punya batasan mengenai kehidupan pribadinya. Ketika orang tua mencari informasi mengenai perkembangan anaknya, ada beberapa orang tua yang tidak sadar mengenai waktu yang digunakan untuk menghubungi guru. Kemudian, nada yang digunakan terkadang terlalu emosional saat mendapat informasi mengenai perilaku atau tindakan anaknya yang melanggar peraturan sekolah berkesan tidak menerima. Tidak hanya hal itu saja, terkadang orang tua mendapat informasi dari anaknya hanya sebagian dan tidak mendapat informasi yang sepenuhnya. Hal tersebut menyebabkan orang tua murid menjadi salah paham terhadap guru.

Salah satu kasus yang penulis hadapi ketika orang tua mengirim pesan melalui whatsapp pada pukul 21.30 WIB. Isi pesan tersebut berupa bentuk protes orang tua terhadap pihak sekolah dikarenakan anaknya tidak mendapat santunan bahwa anak tersebut anak yatim. Dari bentuk protes wali murid tersebut, penulis berusaha untuk meluruskan persepsi wali murid dengan menjelaskan secara detail bahwa pihak sekolah tidak memberikan santunan untuk anak yatim. Santunan tersebut didapat dari yayasan tempat pengajian dari salah satu murid teman sekelas anaknya. Kemudian wali murid tersebut menyadari kesalahpahaman yang terjadi dengan meminta maaf dan mengakhiri percakapan di malam itu. 

Contoh kasus di atas membuat penulis merasa miris karena sikap wali murid tersebut yang bisa dikatakan tidak tahu waktu. Karena sudah larut malam dengan mempertanyakan masalah santunan dalam bentuk rupiah yang tidak didapat oleh anaknya. Begitu beratkah tugas guru? Begitu detailkah yang harus diurus tanpa memperhitungkan waktu? Guru juga manusia biasa, banyak hal yang harus dikerjakan di luar urusan sekolah. Memang tugas guru seperti orang tua kedua di sekolah tetapi kami sebagai guru juga punya kehidupan pribadi tidak bisa melayani 24 jam mengenai urusan sekolah.

Solusi yang penulis dapatkan mengenai persoalan tersebut
  1. Memberitahu kepada orang tua murid dalam hal waktu untuk berkomunikasi membicarakan perkembangan atau persoalan lain yang berurusan dengan anaknya.
  2. Selalu memberikan informasi terbaru kepada orang tua murid. Dengan tujuan orang tua murid mengetahui sepenuhnya informasi dari guru bukan dari murid saja.
  3. Bekerja sama dengan orang tua mengenai perilaku dan tindakan anaknya saat berada di sekolah dan di rumah.
  4. Memberikan gambaran kepada orang tua murid jika suatu hal bisa diurus sendiri silakan diselesaikan secara mandiri dan tidak bergantung kepada guru.
  5. Memberikan waktu untuk diri sendiri sebagai bahan me-refresh, merenung, atau mengurus hal mengenai keluarga yang tidak berkaitan dengan urusan sekolah.


Penulis:
Sri Mardi Asih
Mahasiswa Pascasarjana 
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

______________
Image Credit: cloudfront.net (edited)

Pengaruh Sinetron Menghinggapi Karya Sastra

November 24, 2017

Apa itu kids zaman now ? mungkin ungkapan itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat khususnya anak muda zaman ini. Arti dari kids zaman now sendiri ialah kids artinya “anak-anak”, “now” artinya “sekarang” jadi arti dari kata kids zaman now adalah anak-anak zaman sekarang, zaman yang berbeda dengan zaman anak muda dulu. Ungkapan kids zaman now ini sedang popular dan dipakai dimana-mana, baik dalam percakapan sehari-hari maupun tulisan. Apa yang membedakan anak zaman muda dulu dengan anak zaman sekarang ? Hal yang membedakan anak muda dulu dengan anak muda sekarang yaitu tingkah laku mereka.

Tingkah laku merujuk kepada suatu tindakan yang dilakukan seseorang. Berbicara mengenai tingkah laku, memang jika kita bandingkan tingkah laku anak muda zaman dulu dan anak muda zaman sekarang sangatlah berbeda. Dari perbedaan tersebut terkadang menimbulkan gelak tawa atas tingkah laku yang dilakukan oleh anak muda zaman sekarang. Faktor utama dari tingkah laku zaman sekarang ini karena semakin majunya zaman dan berkembangnya teknologi yang sangat pesat. 

Berbicara tentang teknologi memang tak henti-hentinya. Semakin pesatnya zaman, perkembangan teknologi semakin meroket misalnya, alat elektronik yang hampir setiap bulannya mengeluarkan produk-produk yang terbaru dan handal, sehingga masyarakat tak henti-hentinya tergiur untuk memiliki alat elektronik tersebut, yang menjadi konsumsi masyarakat sekarang misalnya televisi. 

Televisi sudah menjadi alat elektronik yang digemari masyarakat. Televisi dengan adanya stasiun-stasiun televisi yang muncul di negeri ini, menjadi daya saing tersendiri di antara stasiun-stasiun di negeri ini. Dengan adanya daya saing antara stasiun televisi dan agar masyarakat terhipnotis dengan program-program yang dibuat, maka dibuatlah program-program yang unggulan sehingga masyarakat dapat menikmatinya setiap hari. Namun program televisi sekarang sangatlah berbeda sekali dengan zaman dulu. Dulu semua program televisi berisikan tentang pendidikan sehingga masyarakat yang menikmatinya dapat mengambil nilai positif dari program televisi tersebut. Seiring berjalannya zaman, program televisi sekarang tidak memikirkan apakah program yang dibuat sudah bagus untuk anak-anak atau tidak, yang penting sekarang ini, stasiun-stasiun televisi hanya mementingkan ratting saja. Karna mementingkan rating sehingga banyak sekali program televisi yang menurut saya tidak mendidik bagi anak-anak, misalnya program yang menjadi dambaan anak-anak muda zaman sekarang yaitu sinetron

Program sinetron ini di setiap stasiun televisi selalu  ada dan sengaja sekali dibuat episode yang sangat lama, apalagi kalau rattingnya semakin bagus maka, akan lebih lama lagi selesainya episode tersebut. Dengan maraknya sinetron, yang mengakibatkan terhipnotisnya kalangan remaja dan anak-anak. Semua yang mereka lihat dan ditangkap, mereka akan mempraktikkan di dunia mereka. Sehingga generasi zaman now sekarang semakin hancur, akibat tontonan yang tidak mendidik. 

Tingkah laku kids zaman now ini memang terinsiprasi dari tontonan-tontonan yang tidak mendidik. Program televisi sekarang memang sangat berpengaruh sekali terhadap tingkah laku anak zaman sekarang. Sekarang ini anak zaman sekarang lebih mementingkan penampilan dibandingkan otak mereka, menggunakan pakaian layaknya seorang artis terkenal, pergi sekolah membawa alat-alat kosmetik, dan bukan hanya itu di usia mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama tingkahnya sudah seperti orang dewasa yaitu berpacaran, pacaran yang mereka lalukan terkadang membuat gelak tawa bagi orang dewasa karna apa yang dilakukan anak zaman muda sekarang itu kesannya sudah seperti suami istri, misalnya dalam panggilan saja sudah mengucapkan “Mama-Papa, Mimi-Pipi, Bunda-Ayah, Umi-Abi. Nah itu sedikit contoh pengaruh dari sinetron yang tidak mendidik namun bukan hanya itu, anak zaman sekarang jika diperintahkan untuk membuat sebuah cerita atau cerita pendek maka tema yang mereka akan ceritakan tidak jauh dari percintaan, jadi dalam membuat sebuah karya sastra juga dipengaruhi oleh unsur percintaan. 

Sebagai seorang pengajar saya memberikan tugas kepada siswa untuk membuat sebuah cerpen. Objeknya yang saya tuju yaitu anak-anak Sekolah Menengah Pertama. Setelah semua cerpen diserahkan kepada saya, itulah saatnya saya menganalisis satu persatu karya siswa saya. Dari beberapa judul cerpen yang ada, memang didominasi tentang hal percintaan dibandingkan dengan judul yang lain seperti perjuangan hidup, pengalaman hidup, atau masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cerpen yang bertemakan percintaan ini tak jauh dari mereka yang sedang kasmaran atau jatuh cinta kepada seseorang, patah hati karna orang yang mereka sukai malah memilih orang lain. 

Contohnya cerpen karya Riska Ristiani yang berjudul “Tiada Lagi yang Namanya Sahabat.” Awal membaca judulnya mungkin cerita ini akan menitik beratkan tentang sebuah persahabatan, memang di awal-awal cerita dikisahkan tentang sebuah persahabatan tiga orang, namun setelah dibaca sampai selesai muncullah unsur percintaan yang tak jauh alur ceritnya seperti kisah-kisah sinetron. Selanjutnya cerpen dari Silvia Azizah yang berjudul “Dilema Tentang Percintaan.” Jika dilihat dari judulnya saja sudah ada unsur percintaan, dari segi cerita berawal persahabatan antara dua orang (antara permuan dan laki-laki), semakin lama mereka bersahabat akhirnya keduanya mempunyai rasa saling menyukai, akhirnya mereka berpacaran namun karena ada salah satu guru yang mengetahui hubungan mereka, guru tersebut meminta mereka untuk tidak berpacaran, dan akhirnya hubungan mereka pun harus kandas karna sang perempuan ingin fokus belajar dan meraih cita-citanya. 

Berbeda dengan cerpen karya Tiara, yang ceritanya bukan berawal dari persahabat yang akhirnya berpacaran. Judulnya cerpen tersebut yaitu “Kesempatan Kedua”, cerpen ini masih berbau unsur percintaan juga. Cerpen ini berkisahkan tentang seorang perempuan yang menyukai seorang laki-laki, mereka pun menjadi sepasang kekasih, namun di tengah jalan percintaan mereka, lelaki itu berselingkuh dengan perempuan lain, akhirnya percintaan mereka harus kanda, mau tak mau sang perempuan harus bisa move on kalau kata anak kids zaman now, namun setelah perempuan itu bisa move on, laki-laki itu tiba-tiba kembali dan meminta balikan lagi, karna perempuan tersebut sangat menyukainya, maka akhirnya mereka kembali balikan, namun lagi dan lagi laki-laki itu berselingkuh. 

Namun cerpen yang isinya berbeda, ya walaupun isinya ada unsur percintaan tapi dalam mendapatkan percintaan itu tak segampang di cerpen-cerpen sebelumnya. Cerpen karya Indah Wulan Nopiyani yang berjudul “Wanita dengan Laki-laki Surga.” Cerpen ini mengisahkan seorang santriwati yang menyukai guru yang mengajari dia, karna ia selalu gelisa, akhirnya ia memberanikan diri untuk menumpahkan rasa hatinya di secarik kertas yang nanti akan diberikan ke gurunya tersebut. Tapi tak ada balasan dari gurunya tersebut, ia hampir putus asa, namun suatu ketika gurunya itu mendatangi rumahnya untuk menikahinya. 

Nah itu beberapa karya sastra (cerpen) yang menurut saya terpengaruh dari cerita sinetron yang disaksikan oleh siswa saya sendiri. Pesan saya untuk anak Sekolah Menengah Pertama lebih baik jangan terlalu sering menyaksikan sinetron dan lebih baik lagi jika membuat cerpen yang berunsur pengalaman-pengalaman yang pernah dialami. 


Penulis:
Muhamad Romli
Mahasiswa Pascasarjana Bahasa Indonesia
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

______________
Image Credit: babies-toddlers.com

Sekar yang Malang

April 12, 2017
Saya adalah seorang guru bahasa Indonesia di salah satu SMP swasta di daerah Gunung Sindur. Sudah hampir 3 tahun saya mengabdi di sana. Tahun ke tahun pasti saya menemukan siswa-siswi yang berbeda maupun sama sifat dan tingkah lakunya. Ada yang mudah diatur bahkan sulit diatur. Ya namanya juga seorang guru, jika tidak ada siswa yang sulit diatur mungkin belum bisa disebut guru jika belum berhadapan dengan para siswa sepeti itu.

Seiring berjalannya waktu, tak terasa saya hampir mengabdi 3 tahun di sana. Setiap bulan Juli pertengahan setiap sekolah pasti memiliki siswa yang baru masuk, ya bisa dibilang sebagai pengganti yang sudah terlepas di sekolah. Ya, itu siswa baru yang setiap tahunnya pasti lahir dan hadir di sekolah. Pada tahun ini sekolah saya hanya menerima 2 kelas, sebenarnya bisa lebih hanya karna kurangnya ruangan jadi kami hanya cukup membuat dua kelas saja.

Waktupun telat tiba saatnya saya bangun dari istirahat yang panjang, tak panjang sih, wong cuma 2 minggu. Ya, tiba saatnya mengajari anak-anak orang he he he... Kali ini saya harus berhadapan dengan anak-anak yang sebelumya belum pernah saya temui dan diajarkan. Tinggal selangkah lagi saya melangkah menuju ruang kelas. Rasa guguppun hadir dalam benak, maklumlah ya pertama kali bertemu mereka. Saya pun dengan manisnya masuk ruang kelas dan dengan manisnya duduk di kursi yang sudah tersedia di kelas. Saya perhatikan sekitar kelas, ya benar tidak satupun yang saya kenal. Demikian juga mereka belum kenal dengan saya.

Seperti biasa jika hari perdana sekolah, ritualnya ya belum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, biasanya ya kami hanya berkenalan satu persatu. Mulai dari mengenalkan nama, alamat rumah, dan dari Sekolah Dasar mana. Satu persatu mereka pun berkenalan dengan wajah yang malu-malu. Selesai mereka memperkenalkan diri, ya selanjutnya giliran saya yang memperkenalkan diri. Biasanya sih jika saya sudah memperkenalkan diri, saya selalu melontarkan pertanyaan seperti ini "Apakah ada yang ditanyakan?". Biasanya sih pasti ada saja salah satu siswa yang bertanya mengenai status " Bapak sudah menikah?" tanyanya. Ha ha ha ha, aduh inilah pertanyaan yang tersulit untuk dijawab (dalam hati). Sudahlah lupakan saja hal ini, sebenarnya cerita ini bukan menceritakan tentang awal mengajar di kelas tujuh sih, ya sudah lupakan, saatnya fokus kembali ke tema yang akan dibuat. Sebenarnya sih di awal cerita belum dijelaskan sama sekali temanya apa he he he... Oke saya akan cerita mengenai tema dalam ceita ini.

Seperti biasa, jika ada materi tentang cerita dongeng, cerpen atau kutipan novel, pasti saya akan menugaskan kepada seluruh siswa untuk membaca secara bergantian. Ya hal ini mungkin biasa, tapi kegiatan ini yang membuat para siswa tertarik untuk membaca dan bisa memahami maksud dari cerita tersebut. Saatnya memulai untuk membaca sebuah dongeng. Saya lupa judul dongengnya apa, yang pasti ceritanya menarik. Saya pun menujuk seorang siswa untuk membaca paragraf pertama. Setiap siswa yang ditujuk, akan membaca satu paragraf. Setelah saya menunjuk seorang siswa yang sudah lancar membacanya dan dia sudah selesai membaca paragraf pertama (sebut saja namanya Mawar he he he). Selanjutnya saya kan menunjuk siswa yang lain.

Tangan ini pun tertuju kepada siswi yang duduk paling belakang. Sebut saja namaya Sekar, terlihat raut mukanya malu-malu untuk membaca, beberapa kali ia menolak untuk membaca. Saya pun terus memaksa dia untuk membaca tapi tetap saja menolak, ya saya pikir sih mungkin dia malu untuk membacanya. Akhirnya saya pun menunjuk siswa yang lain.

Pertemuan selanjutnya materi yang diajarkan masih mengenai dongeng, tak bisa dipungkiri pasti akan bertemu dengan teks dongeng. Ya betul sekali dugaannya, seperti biasa saya akan melakukan membaca secara bergantian. Kali ini saya masih mengagumi si Sekar untuk membaca pertama teks dongeng tersebut. Lagi-lagi iya menolak untuk membaca. Karena saya pun tak mau memaksa karena takut anaknya menangis atau apalah, jadi saya melupakan dia sejenak. Tapi pada saat saya menunjuk siswa yang lain terdengan celetukan dari seorang siswa bahwa si Sekar itu membacanya belum lancar. Sambil menunjuk siswa yang akan membaca teks selanjutnya saya menghampiri Sekar dan sambil berbisik, "coba di rumah harus rajin-rajin membaca ya" bisikku. Iya hanya menggerakkan kepalanyanya saja, sebagai petanda bahwa iya akan melakukannya.

Tak terasa kegiatan belajar mengajar tahun ini sudah hampir berjalan tiga bulan. Biasanya jika kegiatan belajar mengajar sudah berjalan tiga bulan, maka akan dilaksanakan Ujian Tengah Semester atau yang sering disebut UTS. Dalam kegiatan ini para siswa akan diuji ketercapaian belajarnya selama tiga bulan. Mereka akan menghadi soal-soal yang sudah disediakan oleh para guru.

UTS pun dimulai, seperti biasa saya mendapatkan jadwal mengawas. Saya mendapatkan jadwal mengawas hari Selasa, Kamis dan Jumat. Karena hari Selasa saya masih di Pekalongan, jadi hari tersebut digantikan oleh guru lain, biasanya sih yang selalu menggantikan guru yang berhalangan hadir Bu Hanun he he he... Hari Kamis pun tiba, padahal pukul setengah enam baru sampai rumah, intinya saya baru pulang dari Pekalongan. Karena sudah izin satu hari, mau tak mau hari ini pun harus datang, dengan mata yang berat untuk dibuka dan berwarna merah saya pun memaksakan diri untuk datang ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, dan memang saya datangnya pas sekali dengan jam masuk sekolah, jadi saya pun langsung bergegas untuk mengambil soal-soal ujian. Saya mendapatkan di ruang 03, sesampainya di sana saya langsung membagikan soal kepada seluruh siswa. Mata pelajaran yang diujikan hari ini yaitu Bahasa Inggris. Siswa pun mulai mengerjakan soal.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat, waktu mengerjakan soal tinggal menghitung menit saja. Sudah ada beberapa murid yang sudah menyelesaikan soal-soal, dan ada juga beberapa murid yang mulai panik karena belum menyelesaikan menjawab semua soal. Ada yang mulai tengak-tengok sana-sini, ada yang mulai memanggil temannya, dan ada juga yang santai saja mengerjakan. Jujur kalau saya sudah melihat anak yang ribut menyontek, saya langsung bilang "yang menyontek nanti kertasnya saya ambil, bila perlu saya robek dan langsung mendapatkan nilai nol" ujarku. Sontak suara ramai para siswa mulai mereda.

Bel pun berbunyi menandakan ulangan hari ini telah selesai. Siswa yang sudah selesai mulai mengumpulkan lembar jawabannya di meja pengawas, dan satu persatu keluar ruangan. Namun berbeda dengan Sekar dan Wiro, dia masih santai saja mengerjakan soal, tidak terlihat panik dan tak menghiraukan teman-temannya yang sudah keluar ruangan. Tapi saya memberikan waktu untuk mereka agar menyelesaikan semua soal. Tak lama Wiro pun sudah menyelesaikan soalnya, tersisa Sekar yang masih duduk manis di tempat duduknya. Saya masih setia menunggu, dan tak lama iya pun menyelesaikan soal tersebut. Ia pun menghampiri saya di depan kelas, dan mengumpulkan kertas jawaban. Namun iya tak langsung ke luar ruangan.

Tak seperti biasanya, ia mengobrol  dengan saya. Ya memang kalau di kelas kan ia sangat pendiam dan pemalu. Ia pun mulai mengeluarkan ujaran-ujaran di dalam alat bicaranya. "Pak saya boleh bicara sesuatu gak?, tapi Bapak jangan bilang sama teman-teman dan guru yang lain ya?"ujar Sekar. "Memang kamu mau bicara apa, sampai teman-teman kamu dan guru-guru tidak boleh tahu", ujarku. "Tapi Bapak janji ya tidak bilang dengan siapa-siapa ya? Jadi gini loh Pak, sebenarnya selama ini saya belum bisa membaca, makanya saya sering menolak jika Bapak menyuruh saya membaca", ujarnya. "Iya janji, oh jadi begitu, ya walaupun kamu membacanya masih belum lancar tak apa-apa ko, yang penting masih bisa, kan saya selalu bilang sama kamu, coba di rumah sering baca buku supaya membaca kamu lebih tambah lancar" ujarku. "Pak sebenarnya bukan begitu, tapi saya memang belum bisa membaca sama sekali", ujarnya. Hati saya pun langsung terketuk, dalam hati masa sih anak kelas 7 masih belum bisa membaca? waktu duduk di Sekolah Dasar dan menghabiskan waktu 6 tahun, ngapain aja?. "Hah, benar sama sekali belum bisa baca? memang di rumah orang tua atau kakak kamu tak mengajarkan membaca?" ujarku. "Benar Pak, orang tua saya sibuk bekerja, kakak saya pun sama, malah adik saya sudah bisa membaca, jadi saya minta Bapak untuk mengajarkan saya membaca mulai dari huruf abjad soalnya saya belum hafal semua huruf abjad" ujarnya. Wajahnya terlihat sangat sedih sekali. "Jadi begitu ya, sulit juga sih kalau tidak ada yang membantumu di rumah, jadi kamu minta saya untuk mengajarkan kamu, kalau saya sih bisa-bisa saja cuma mungkin yang menjadi halangan waktu saja, paling saya bisa mengajarkan kamu di hari Selasa dan Kamis saja", ujarku. "Iya Pak tidak apa-apa, yang penting Bapak bisa mengajarkan saya membaca. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih ya Pak" ujarnya. "Iya sama-sama, tapi mulainya jangan di minggu-minggu ini ya soalnya banyak kerjaan koreksian soal UTS, mungkin mulai di minggu depan kita mulai belajar membaca", ujarku. "Iya Pak tidak apa-apa, kalo begitu saya pamit pulang ya Pak, Wassalamu'alaikum" ujarnya. "Iya, Waalaikum salam" ujarku. Iya pun langsung menghilang dari pandanganku. Saya pun langsung ke luar ruangan dan menuju ruang guru untuk menyerahkan lembar jawaban siswa.

Karena ujian hari ini sudah selesai, saya pun bergegas untuk pulang. Di sepanjang perjalanan saya masih kepikiran dengan si Sekar, bagaimana bisa dia sudah kelas 7 masih belum bisa membaca sama sekali. Terus selama 6 tahun ngapain aja, guru-gurunya kemana? apakah mereka tidak mengajarkan atau mereka gak memperhatikan anak ini, terus fungsinya sebagai guru apa? masa ada siswa yang belum bisa membaca dibiarkan saja?. Kalau bisa membaca terus kalau membaca soal ujian anak ini bagaimana? cuma ngasal jawab saja, atau melakukan hal yang lain. Membaca itu sangatlah penting dalam proses belajar mengajar. Dan orang tuanya mana? Mana peran orang tua kepada anaknya seharusnya sebagai orang tua bisa mengajarkan membaca dan memperhatikan anaknya.


Kalau menurutku, jika anak itu tidak bisa membaca dan pada saat menjawab soal ujian mungkin iya menjawabnya dengan asalnya. Terus hasil nilainya bagaimana? Saya agak meragukan tentang nilainya, mungkin bisa saja nilanya anak ini rendah, dan mungkin bisa saja iya tidak naik kelas. Nah kalau memang dia harusnya tidak naik kelas, terus kenapa harus dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi. Terkadang hal yang tidak saya sukai di pedidikan di negeri ini yaitu, ada anak yang belum berhasil dalam belajarnya tetap saja dinaikkan, atau orang tuanya memberikan amplop kepada pihak sekolah supaya anaknya dinaikkan.

Coba lihat negara lain, jika ada anak yang memang harus tinggal kelas, ya harus tinggal di kelas dan orang tua pun harus menerima lapang dada. Jadi si Sekar adalah contohnya dimana siswa ini dipaksa untuk naik kelas, sebenarnya bukan dia saja sih, pasti ada saja di sekolah-sekolah lain melakukan hal itu. Oh iya saya pun jadi teringat dengan peraturan dari dinas atau pemerintah, dimana dalam sebuah raport nilai anak tak boleh ada yang di bawah KKM. Hello, ini sungguh tak adil, gimana dengan anak-anak yang serius belajar, iya rela belajar dengan keras untuk mendapatkan nilai yang bagus, tapi ini anak yang tidak bisa sama sekali yang seharusnya mendapatkan nilai yang di bawah KKM nilainya harus dinaikkan. Terkadang miris melihat pendidikan di negeri ini, anadaikan kita bisa meniru pendidikan negara lain. Mungkin di negara kita akan merlahirkan siswa-siswa yang berhasil dan negara kita akan maju jika proses belajar siswa di negara kita tidak dimanupulasi dengan sistem nilai yang bohongan dan anak dipaksa untuk naik kelas. Jadi yang salah siapa Orang tua kah atau guru yang menyebabkan si Sekar tidak bisa membaca sama sekali?. 

Eh, kko jadinya curhat ya ha ha ha... Maaf soalnya terkadang gereget juga kalau membicarakan pendidikan di negeri ini. Okay, kembali lagi mengenai si Sekar. Mulai minggu depan saya akan membantu dia untuk belajar membaca dari awal yaitu huruf abjad. Semoga saya bisa membantu Sekar untuk bisa membaca dengan lancar dan saya mempunyai waktu yang lebih banyak lagi untuk membantu anak ini. Okay, sudah dulu ya cerita kali ini.


Penulis:
Muhamad Romli



_________________________
Image credit : shutterstock.com

Suka-Duka Kuliah Sambil Kerja

April 06, 2017

Setiap orang di dunia ini pasti punya mimpi. Agar bisa mewujudkan apa yang diinginkan, tentu semua orang harus berjuang dengan gigih. Memang banyak juga orang yang sudah terlahir berkecukupan bahkan kaya dari orang tuanya, dan mereka yang dari keluarga biasa-biasa saja tentu harus berjuang lebih giat.

Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga yang sederhana, yang enggak sekaya Budi Hartono, bahkan Chairul Tanjung. Dan otomatis saya harus bekerja lebih keras meraih apa yang saya inginkan dan saya tidak bisa minta terus kepada orang tua. By the way, disini saya akan curhat dan sharing tentang pengalaman menyenangkan menjadi orang yang harus kerja keras dan kuliah demi masa depan.

Setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk kerja dan juga kuliah. Saya nekat melakukan hal ini agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri. Yaps, harga yang harus dibayar atas keputusan tersebut adalah saya harus berangkat kerja dari pagi sampai sore hari, lalu dilanjutkan kuliah dari sore hingga malam hari. Mungkin diantara kalian semua ada yang merasakan hal yang sama, dan mungkin juga ada yang sekarang masih sekolah dan berencana untuk kuliah sambil kerja, atau kuliah saja, atau kerja saja. So, pada kesempatan ini saya mau sedikit sharing tentang suka-duka menjalani kuliah sambil kerja.



1. Menjadi Lebih Mandiri dan Bertanggung Jawab

Dari sini kamu bisa menempa diri menjadi pribadi mandiri, yang enggak harus minta lagi ke orang tua, dan kamu belajar bertanggung jawab atas pendidikan yang kamu ambil sendiri yang sudah kamu putuskan dan ini harus sampai selesai. Ini tidak akan membuat kamu menjadi anak yang lemah dan manja (tapi kalau manja sama dia engga apa-apa kali, ya? Hehehe). Kamu akan tangguh menghadapi masalah dan bertanggung jawab atas masalah yang ada. Mulai dari masalah di kerjaan (kantor), masalah di kampus, bahkan masalah sama pacarnya gebetan kamu, yang sudah kamu rebut. Hahaha.   

2. Tugas Jadi Double

Jika kalian hanya kuliah saja, terus malas-malasan, kalian harus malu! Bisa kamu bayangkan sendiri, setiap hari saya dan orang-orang lain yang seperti saya, punya tugas double dari kantor dan kampus. Tak jarang Bos dan Dosen sama teganya. Mereka tidak mengerti kalau tugas kita banyak banget, haha. Sebenernya saya bisa mengaturnya, saya bisa mengerjakan tugas kuliah pada saat ada waktu di sela-sela kerja. Tapi kadang  jika ada tugas kantor dan kampus yang sama-sama deadline, saya bingung mau ngerjain yang mana lebih dahulu. Ibarat kamu sudah punya janji sama si doi, tapi sahabat  kamu minta ditemani jalan. Dua-duanya penting!

Ada kejadian menarik yang saya alami, saking deadlinenya kedua tugas tersebut, akhirnya saya ngelembur sampai sore banget. Beberapa menit sebelum kuliah dimulai, saya masih dikantor, padahal saat itu saya harus presentasi. Akhirnya saya langsung cusss ke kampus dan presentasi, tapi ternyata yang saya tampilkan di depan kelas malah presentasi untuk meeting besok. Bukan bahan kuliah yang akan saya presentasikan, duuuh.... Ini adalah pelajaran penting untuk saya agar lebih teliti lagi. 

3. Lebih Menghargai Waktu

Jika kamu kerja sambil kuliah, kamu bakal mengerti bagaimana kamu harus bisa menghargai waktu yang kamu punya. Setiap hari kamu harus menghabiskan waktu dari pagi sampai sore untuk kerja, dan sore sampai malam untuk kuliah, belum lagi jika ada tugas kuliah. Kalau sudah sampai di rumah pun, kamu harus mengerjakan tugas dahulu, baru bisa bobok. Kalau ada diantara kamu yang kuliahnya di hari Sabtu dan Minggu, berarti kamu adalah orang hebat, yang setiap hari harus bangun pagi tanpa henti, tujuh hari dalam seminggu. Haha.

Otomatis, waktu bersama keluarga, teman bahkan gebetan jadi sangat minim. Akhirnya, kamu akan sadar bahwa waktu itu sangat penting, terutama untuk orang-orang yang kita cintai. Kita akan sadar bahwa kita sangat tidak boleh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Kamu tidak akan lagi ngaret, karena segala sesuatunya telah diukur dengan matang. 

4. Menghargai Jerih Payah

Kamu akan lebih menghargai pelajaran di kampus, karena ini adalah hasil jerih payahmu. Kamu akan berpikir sudah berapa banyak waktu dan materi yang kamu habiskan demi mendapatkan mendapatkan pendidikan beserta gelarnya. Saya sering berpikir sejauh itu hanya untuk menyemangati diri saya sendiri di saat saya capek dan malas untuk berangkat ke kampus. Hahaha. 

5. Lebih Sering Mengantuk

Ini adalah hal yang sangat sering saya alami. Saya paling kesal jika ada deadline tugas kantor dan kuliah secara bersamaan. Karena itu, saya harus mengantuk di kantor gara-gara mengerjakan tugas kuliah sampai pagi, dan saya mengantuk di kelas karena mengerjakan kerjaan di kantor seharian yang membuat badan saya lelah dan ingin cepat-cepat memeluk bulan bantal, haha. Tapi saya punya solusi sendiri. Saya punya cara khusus mengusir ngantuk, yaitu membasuh wajah dan membaca Ayat Kursi. Trust me, it works. Haha. 

6. Setiap Hari Pulang Larut Malam

Bukan rahasia lagi kalau saya sering pulang larut malam. Setelah beres kuliah, kadang sampai pukul setengah sepuluh malam, kalau saya sedang lapar saya suka cari makan dulu. Belum lagi kita harus mengimbangi pergaulan kita di kampus. Otomatis, saya harus ikut ngumpul dulu dengan teman-teman, bahkan kadang juga saya menginap di rumah teman, atau sekedar menumpang tidur beberapa jam untuk menghilangkan kantuk di jalan. Makanya, melihat kasur di rumah adalah pemandangan yang sangat indah. Bisa bobok dengan tenang karena sudah melewati berbagai kesibukan seharian penuh. Ketika pagi datang, saya harus rela dan ikhlas meninggalkan dia (kasur) yang sudah menemani tidur saya sampai lelah hilang, dan saya harus siap-siap lagi menjalankan rutinitas seperti biasa, dari pagi sampai malam lagi.

7. Tidur Seharian di Waktu Libur

Dengan ditandai saya pakai baju bebas ke kantor, itu tandanya adalah hari Sabtu, Saat itu saya bisa santai-santai di kantor sambil menunggu jam 12 siang, hanya setengah hari. Setelah itu, saya bisa langsung pulang dan tidur di rumah sampai sore. Saat malam tiba, saya siap-siap untuk berkumpul bersama sahabat-sahabat saya, yang membuat capek saya berasa hilang. Berkumpul bersama sahabat adalah hal istimewa yang bisa melupakan segala beban, termasuk beban kerja dan kuliah.

8. Dapat Teori + Full Praktik

Alhamdulillah saya memiliki pekerjaan yang hampir nyerempet-nyerempet dengan jurusan kuliah. Saya bisa mendapatkan ilmu yang dapat saya praktikkan langsung di tempat kerja. Ternyata, di dunia kerja tidak seribet apa yang diajarkan di kelas, yang terpakai hanya 10-20%. Jadi, saya mendapatkan ilmu yang berlipat-lipat di luar kelas. Saat saya tidak dapat ilmu di kelas, saya mendapatkannya di kantor, pun saat saya tidak dapat ilmu di kantor, saya mendapatkan ilmu itu di kelas.

9. Punya Pekerjaan

Salah satu keuntungan yang saya rasakan adalah saya merasa lebih maju dari teman-teman seangkatan dengan saya, karena ada satu hal yang saya tekunin dari awal yaitu pekerjaan dan saya dapat kuliah yang setara dengan mereka. Jadi di saat teman-teman saya sibuk mencari kerja setelah lulus, saya bisa dengan santai duduk di kantor sambil menunggu pengangkatan jabatan karena  gelar S.E. saya yang baru. Hehehe. 

10. Kipasan Pake Duit

Pada saat saya gajian saya merasa menjadi orang tajir yang baik hati, hahaha. Karena saya memiliki kebanggan sendiri yang saya dapatkan dari hasil keringat saya. Rasa pusing dan mual hilang sekejap ketika gajian tiba. Dan saya pun bisa berbagi kepada orang tua saya, dan adik-adik saya dan selebihnya saya pakai untuk tabungan masa depan, jajan, dan jalan-jalan. Happy dech.


Walaupun ada plus dan minusnya, saya selalu bersyukur dengan apa yang saya jalani sekarang ini. Untuk kalian yang mau cobain serunya kuliah sambil kerja saya akan memberikan beberapa tips: Pertama, cari pekerjaan yang menurut kamu itu baik untuk dikerjakan. Jangan sampai ketika kuliah kamu sudah bikin pusing, kamu merasa tambah pusing sama kerjaan. Kedua, belajarlah mengatur waktu dengan baik, karena kuliah dan kerja adalah hal yang sama-sama penting, dan kunci utama agar semuanya beres adalah mengatur waktu dengan baik. Jika kamu merasa sudah tidak kuat untuk melakukannya lagi karena merasa sudah di luar batas kemampuan manusia, kamu tinggal ingat dengan gajian saja, haha…, dan jangan pernah lupa untuk selalu mengingat Tuhan kamu, agar kamu selalu mendapatkan kemudahan dari-Nya. Aamiin.

Izinkan saya mengutip quote dari Pramoedya Ananta Toer sebagai penutup tulisan ini :)

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri" ― (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia).


Penulis: Ridho Destianto
Penyunting: Muh. Abdul Farid



__________________
Image credit : careers360.mobi

Ngapain Kuliah? Ngga Bakal Bikin Kita Kaya!

March 11, 2017

"Mana coba saya pengen lihat, anak-anak kuliahan itu udah punya apaan?"

Pertanyaan seperti ini sangat lazim sekali ditanyakan oleh masyarakat di perdesaan, terutama ketika anak-anak mereka berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Mungkin kita semua sudah tahu, apa saja ciri-ciri masyarakat di perdesaan. Namanya juga "desa", pasti identik dengan dusun, kuno, ketinggalan zaman, primitif, anak gunung; suka berkelahi keroyokan, bodoh, miskin, rumahnya jelek, jalanannya rusak, becek, dll. Tidak heran, masih banyak di antara masyarakat perdesaan yang tidak mendukung terhadap pendidikan formal, mereka lebih menyukai anak-anaknya bekerja ketimbang mengurusi sekolah.

Mengapa bisa demikian? Kita semua juga sudah pasti tahu apa jawabannya. Masyarakat di perdesaan umumnya berpenghasilan rendah, jangankan untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, untuk kebutuhan dasarnya pun (makanan yang bergizi, kesehatan, dll) pun masih belum terpenuhi. Oleh karena itu, mereka harus puas bekerja di sektor informal sejak remaja sampai menikah dan punya anak.

Ketika anaknya sudah dewasa, si remaja yang sudah menjadi orang orang tua itu pun sama kondisinya dengan orang tua mereka pada awalnya, mereka tak mampu memenuhi kebutuhan gizi dan biaya pendidikan anak-anaknya. Pada akhirnya, si anak tersebut pun mau-tidak-mau harus bekerja untuk membantu orang tuanya. Begitulah seterusnya.

Di sisi lain, ada sebagian keluarga di perdesaan yang memiliki aset yang cukup (namun biasanya hasil dari pembagian warisan keluarganya). Lalu mereka menyekolahkan anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Namun, seperti biasanya, tidak semua pelajar serius dalam pendidikannya. Anak orang berada cenderung lalai dan lebih menyukai hura-hura daripada belajar. Alhasil, setelah lulus menjadi sarjana, kemampuannya masih diragukan, sehingga dia tidak dapat diterima di pekerjaan-pekerjaan strategis, dan jadilah ia sebagai "pengangguran terdidik".

Inilah yang menyebabkan beberapa masyarakat di perdesaan mengambil kesimpulan sepihak dengan hanya melihat satu kasus, bahwa pendidikan tidaklah penting, lantaran seorang sarjana saja tidak bisa bekerja menghasilkan uang yang lebih banyak daripada mereka yang bahkan tidak tamat SD lalu menjadi tengkulak.

Jadi, faktor penghambat pendidikan di desa selain karena ketidakmampuan secara ekonomi, juga karena masyarakat cenderung pesimis terhadap pendidikan tinggi, yang tidak menjamin akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Oleh sebab itu, ada beberapa masyarakat yang bisa dikatakan cukup mampu, tetapi tetap tidak mau menyekolahkan anak-anaknya.

Memang tidak bisa dipungkiri, kondisi lapangan pekerjaan di Indonesia tidak mampu menyerap banyaknya jumlah para pencari kerja. Sehingga, hanya yang berkompetenlah yang bisa lolos. Tetapi jika dilihat lebih dalam, peluang bagi lulusan perguruan tinggi untuk sukses jauh lebih besar daripada mereka yang hanya lulusan rendahan. Sebab, dalam tahap seleksi administrasi awal pun mereka akan segera disingkirkan oleh para sarjana dengan sederet gelarnya.

Secara sederhana, bisa kita pikirkan:
Berapa banyak sarjana yang sukses? Berapa banyak orang yang tidak kuliah yang sukses? Berapa banyak sarjana yang gagal? Berapa banyak orang yang tidak kuliah yang gagal?

Seandainya saja semua orang tua di perdesaan (yang cukup mampu) mau menunda membeli tanah, mobil, atau barang-barang lainnya hanya demi menyekolahkan anaknya hingga pendidikan tinggi, tentu mereka akan dapat menuai hasilnya.

Selain berpeluang diterima di pekerjaan strategis dengan gaji yang tinggi, mereka juga akan mengalami perubahan cara pandang terhadap segala permasalahan, dari yang awalnya menyelesaikan masalah dengan otot, suka main pukul, kemudian berubah menjadi penyelesaian dengan etika hukum yang tertib. Dari yang awalnya suka merusak fasilitas umum (karena berpikir itu punya pemerintah, bukan punya kita) berubah menjadi menjaga dan merawatnya dengan baik (karena sudah mengerti, bahwa semua milik pemerintah adalah milik rakyat dan untuk rakyat). Dari yang awalnya berpikir pendidikan tidak penting, akhirnya mereka dengan sendirinya memaksakan diri untuk menyekolahkan anaknya, dst.

Seandainya anak-anak yang bersekolah juga bersungguh-sungguh dalam proses belajarnya. Dan seandainya kedua hal itu terjadi, secara massive, tentu akan membawa perubahan pada kualitas hidup masyarakat di Indonesia. Tidak akan ada lagi yang buta huruf, berarti tidak akan ada lagi pembodohan. Semua masyarakat bisa mengakses informasi dengan baik, semakin banyak ilmuwan, yang memiliki kemampuan untuk mengolah sumber daya alam sendiri (tidak dibodohi oleh asing), yang selanjutnya akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.

"Education promotes equality and lifts people out of poverty. It teaches children how to become good citizens. Education is not just for a privileged few, it is for everyone. It is a fundamental human right" [Ban Ki-moon]

Jika semua orang di Indonesia menjadi produktif, maka akan terciptanya negara yang maju dan dengan masyarakat sejahtera. Tapi itu semua akan terjadi, jika kita mau berubah. Kecuali, jika kita tetap mau jadi orang kampung, dengan pola pikir yang 'kampungan'. Mari sekolah untuk menjadi pintar, pintar untuk menjadi pemimpin, pemimpin untuk menjadikan negeri ini negeri yang sejahtera.



Penulis:
Muh. Abdul Farid


__________________
Image credit : brighterlifeindonesia

 
Copyright © MudaBicara! - Youth Community | Designed by OddThemes