Terkurung Prasangka

April 18, 2017

Ternyata ada jarak yang tak bisa aku jelaskan, ada ucapan yang tak bisa diucapkan, bahkan ada waktu yang aku harap berbalik dan terpotong dan tak aku lewati peristiwanya. Malam ini langit begitu hitam tanpa bintang, sementara tiba-tiba datang angin datang merusak semuanya. Satu kalimat yang membuat dinding kelopak mata nyaris tak hentinya mengeluarkan buliran. Satu kalimat sederhana yang dibaca lewat status dalam sosial media. Malam ini seisi kamar rasanya menatap dengan keheranan, dengan semua tanya dan rasa kebingungan. Tak mungkin berteriak sebab tak ada yang mengerti mengapa bisa terjadi. Tubuh yang menyender dinding, wajah ditekuk dan ditahan oleh kaki kiri yang dipeluk menjadi fokus di atas kasur. Tak terhindar ada akibat dari satu kalimat sederhana dari sosial media meruntuhkan semuanya. Lebur, hancur, patah, tercecer dan menyakitkan.

“Perempuan bisa apa, bolehkan dia menyatakan perasaan cintanya lantas bertanya pada yang dituju?“ 


Aku bergumam dengan pantulan diriku di cermin. Menit yang menyakitkan kemudian membawa duka lara, aku baca sepenggal kalimat sederhana dari sosial media. Seperti kata lulus/ tidak lulus pada kertas pengumuman kelulusan Ujian Nasional yang dapat benar-benar membuat prasangka yang aneh-aneh. Tapi kalimat dari sosial media itu benar menusuk dan membuatku patah hati. Meruntuhkan dinding tembok harapan. Aku tidak dapat mencengah tangisan. Semua prasangka tiba-tiba terbayang dalam pikiran setelah aku baca kalimat itu. Prasangka yang menimbulkan aku menarik kesimpulan sendiri tanpa pernah tau kebenarannya. Prasangka yang membuat kelopak mata terus berlinang sampai diriku tak mengerti ada apa dengan perasaan ini. Kalimat yang bermakna dan mengindikasikan ada sesuatu dan seseorang. Dan semua prasangka itu terkumpul menjadi sebuah pisau yang mengiris harapan kemudian membuat pilu. Semua itu membuat aku berfikir untuk mundur dan tak meneruskan kedekatan ini.

Beberapa bulan lalu, perkenalanku dimulai. Seorang yang asing bagiku lantas kemudian menjadi akrab karena saling mengirim pesan lewat sosial media. Memang benar, meski awalnya tak pernah ada rasa, tapi karena terlalu sering dan berinteraksi harapan itu muncul. Tak pernah aku kira semuanya menjadi pedih malam ini. Semua berjalan cepat tanpa bisa aku kendalikan.

Malam ini, semua menjadi hitam dan tak ada arah. Aku mundur. Sepenggal kalimat di sosial media “untukmu” tertulis jelas pada akun sosial media laki-laki itu dengan setangkai bunga mawar. Menyakitkan, padahal malam ini lelaki itu sedang bercekrama denganku lewat dinding hitam bersimbol kotak bertotol lingkaran kecil berjumlah tujuh. Pesan yang selalu terlihat diterima ataupun dibaca. Aku terpaksa mengurung semua prasangka sebelumnya dengan prasangka yang datang secepat kilat malam ini, aku simpulkan bahwa lelaki itu menaruh hati pada perempuan lain. Entahlah, aku benar-benar merasa salah menaruh harapan terlalu dalam. Seolah tak ada kejadian apapun, aku tetap membalas cekraman pesan itu, dan memilukan hati ini. Mengurung semua prasangka ini dalam dekapan lara dan kebingungan entah apa sesungguhnya yang terjadi.

***

Manusia itu tetap menangis, menghujat waktu yang katanya salah menempatkan dirinya pada keadaan malam yang tiba-tiba seperti petir mengangetkan dan membuat ketakutan. Manusia tetap terkadang bersumpah serapah pada kesempatan yang sudah dinikmatinya karena semua angan berubah menjadi menyakitkan. Waktu yang singkat malam ini menjadi pelampiasan atas apa yang sudah dilihat, mulutnya berujar andai, andai, andai, dan andai.

Lantas jika kata “andai” itu berwujud pada kemunduran waktu beberapa menit dan semua pilu yang dianggap menyakitkan tak dijumpai apa akan tetap bahagia dan baik-baik saja? Kemudian manusia itu berangan melewati awan berharap beberapa menit yang sudah dilewati dengan pikiran dan kaitan yang pilu dengan membuat sebuah kata “andai” akan menyebabkan kejadian itu tak dialami dan tak terdeteksi. Kau terkurung dalam prasangka!

Aku harap tak pernah lewat pada alur yang membawaku hingga terdiam dan merenung. Kurungan penjara pikiran semakin kuat setelah sepotong deretan kata yang jika dijabarkan maknanya masih umum namun dalam benakku sudah membuat bulatan tekad bahwa aku tersungkur jatuh pada pengharapan. Pesan singkat dengan sebuah simbol dan tanda yang membuat siapapun yang merasa sedang dekat dan didekati lawan jenis dengan penuh gairah selalu ditunggu. Kalimat “sedang menulis pesan” pada kolom obrolan pesan dalam sosial media dapat membuat sebuah percakapan menjadi mengasyikkan jika si pengirim dan si penerima pesan sedang beriteraksi dengan tanpa jeda dan pesan terkirim sekilat mungkin tanpa perlu mengecek berkali-kali telepon genggam itu dengan kekhawatiran harus menunggu.

Aku selalu senang dengan sebuah obrolan, tapi malam ini aku benci semua kata, semua yang menunjukan dan membuat aku terdiam hanya karena sepenggal kata yang bagiku diperjelas maknanya oleh sebuah gambar. Orang-orang sedang ramai dengan semua kegilaannya mengunggah gambar dengan berbagai deretan kata yang terkadang begitu puitis, tapi tak pernah jelas untuk apa mereka sebenarnya menulis itu. Orang-orang sedang sibuk dengan gambar kemudian menyebarluaskan semuanya. Orang-orang akhir-akhir ini sibuk dengan apa yang ingin diunggahnya tapi mereka lupa dampak apa yang akan ditimbulkan dari tulisan dan unggahan gambar di sosial media itu. Orang-orang tak pernah mengerti bahwa ada seorang yang selalu memperbaharui sebuah informasi dengan melihat sosial media. Mungkin semua yang orang-orang sosial media itu tak semua benar, tak semua selalu berkaitan dengan dirinya. Orang-orang lupa bahwa akan selalu muncul banyak prasangka, akan selalu muncul banyak tanya. Hasil unggahan seorang laki-laki itu menusuk hatiku lantas aku mulai benci menerjemahkan itu sebagai sebuah hal yang biasa saja. Aku kemudian termenung, memikirkan kaitan kata dengan gambar.  Aku kemudian berdiskusi dengan bayanganku.

Bersambung....


Penulis: 
Rifa Nurafia


_______________
Image Credit: media.tumblr.com


Me Before You: Hak untuk Mati Sama dengan Hak untuk Hidup?

April 17, 2017
Sebagai manusia kita diketahui memiliki hak untuk hidup. Tapi bagaimana hak untuk mati? Tentu terdengar sangat mengerikan apabila seseorang memintamu untuk membantunya dalam melaksanakan keinginannya untuk mati. Will Traynor pengusaha muda berusia 35 tahun yang menderita quadriplegia. Cacat seumur hidup dari bagian dada hingga kaki. Akibat kecelakaan motor yang dialaminya, Will harus menderita menjalani hidup di atas kursi roda. Karena sakit yang teramat, ia menginginkan untuk lebih baik mati ketimbang menjalani kehidupan yang hanya membuatnya sengsara ini. Percobaan bunuh diri yang menyeramkan membuat orang tuanya merasa bingung bukan kepalang harus melakukan tindakan apa. Mereka akhirnya menyepakati untuk menahan keinginannya Will melaksanakan kematiannya selama enam bulan. Sambil terus berjuang mati-matian untuk merubah pikirannya. Termasuk memperkerjakan perawat perempuan untuk mengawasinya selama hampir seharian penuh.

Louisa Clark, gadis energik berpenampilan nyentrik yang tidak memiliki bakat apa-apa akhirnya mendapat sebuah pekerjaan setelah pekerjaan satu-satunya sebagai pelayan kafe harus berhenti karena sang pemilik kafe menutup kafenya dan pindah ke suatu tempat yang jauh. Kehadiran Louisa sebagai perawat baru Will membuat seisi rumah kembali memiliki warna baru. Kembali memiliki secercah harapan bahwa Louisa dapat merubah keinginan Will dan membatalkan niatnya mendatangi klinik dignitas di Swiss.

Menurut pendapat pribadi saya yang cukup terlambat mengetahui novel ini adalah novel ini benar-benar layak untuk dibaca. Kamu tidak akan benar-benar meninggalkan buku itu jika kalau bukan ingin pergi ke kamar mandi atau perutmu sudah benar-benar sangat lapar dan minta diisi. Buku ini benar-benar memiliki magnet tersendiri untuk terus dibaca lembar demi lembar. Rasanya seperti tidak ingin berhenti. 

Sejujurnya, saya sudah tahu sejak lama tentang keberadaan novel ini. Tapi tidak benar-benar ingin mencari tahu banyak tentangnya karena lagi-lagi disebabkan oleh kurangnya informasi tentang novel apa ini sebenarnya. Saya pikir hanya tentang kisah cinta dua anak manusia. Tentu dengan tebal 600 halaman lebih saya membayangkan akan tenggelam dalam kebosanan jika isinya hanya perihal cinta melulu. Lalu, untuk mempersingkat pencarian saya mengumpulkan informasi tentang buku ini, saya memutuskan untuk menonton filmnya terlebih dahulu. Dan setelah menonton filmnya, saya sukses dibuat penasaran setengah mati bagaimana isi novelnya. Tentu jika kamu penggemar buku dan film, mereka adalah dua media berbeda yang masing-masing bisa dinikmati dengan cara yang berbeda pula. Jadi, meskipun sudah tahu ending ceritanya bagaimana dan keseluruhan filmnya seperti apa, tak mengurangi sedikit pun niat saya untuk tetap membaca bukunya.



Perasaan saya setelah menyelesaikan buku ini adalah sungguh buku ini sangat emosional. Kita dibawa menyelami tiap-tiap karakter dari tokoh yang dibuat oleh si penulis. Gaya penulisannya yang tidak melulu 'aku' sebagai si pemeran utama, membuat kita menyelami beberapa tokoh-tokoh dengan point of view mereka. Lembar demi lembarnya membuat kita sama-sama berharap (seperti semua tokoh dalam novel) untuk Will bisa merubah pikirannya. Mungkin karena kita benar-benar dibawa masuk kedalam setiap karakter dan tokoh-tokohnya. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil yang dapat membuat kita bisa jadi lebih menghargai hidup. Membuka cakrawala berpikir kita tentang betapa membosankannya hidup di dalam zona aman. Buku ini tidak melulu menceritakan soal cinta, bahkan menurut saya cinta-cintaannya hanya sekitar 20 persen dalam buku ini, tapi tentang bagaimana kamu tetap menjalani hidup yang tidak kamu inginkan, dan berkutat dengan pikiran bahwa hak untuk mati sama dengan hak untuk hidup.

Sempat menuai sedikit kontroversi saat filmnya pertama kali dirilis, tidak mengurungkan niat saya untuk tetap membacanya. Buku dan film ini dikecam oleh mereka para penderita difabel yang mengatakan bahwa buku ini telah menyampaikan sesuatu yang buruk pada dunia yang seolah-olah mengatakan bahwa kehidupan orang-orang seperti mereka layak dihentikan. Bahwa kehidupan seperti mereka sangat amat menyedihkan sehingga kematian pun tampak jadi lebih baik ketimbang kehidupan itu sendiri. Mereka yang masih memiliki semangat berapi-api untuk tetap hidup dan mengisi kehidupan dengan sesuatu yang positif, nampaknya cukup tersinggung dengan keberadaan buku ini. Tapi tentu saja, sebenarnya saya pribadi pun tidak ada kepikiran ke arah situ. Jika mereka bilang Moyes telah menyampaikan sesuatu yang seperti itu, sepertinya hal itu tidak ditangkap oleh saya. Saya berpikir jika buku ini sangat berguna bagi siapapun yang sehat atau sakit, penyandang cacat atau bukan, untuk bisa jadi lebih menghargai kehidupan yang telah dimiliki sekarang.

Terlepas dari semua kontroversi yang ada, buku ini dapat dinikmati oleh kita semua yang menginginkan bacaan baru yang mungkin lebih emosional. Saya tidak bisa menjamin kalau kamu bisa berhenti menangis dan terpukul di bagian akhir setelah beberapa jam. Tentu hingga sekarang pun masih menyisakan beberapa perasaan mual di perut mengetahui endingnya yang cukup menguras air mata. Kita bisa belajar memperbaiki diri lewat apapun dan darimana pun. Meski hanya dari kisah fiksi dalam buku.


Penulis:
Bahha Taqiya

______________
Image Credit: tumblr.com

Damailah Bangsa dan Negeriku, Kutunggu Jayamu Ibu Pertiwi

April 15, 2017

Sudah hampir setahun belakang, beberapa media sosial maupun televisi banyak memberitakan permasalahan mengenai banyaknya keributan sana-sini. Sebenarnya beberapa masalah yang menjadi viral dan ramai mengenai persoalan keberagaman dan keagamaan bukan soal yang baru di negara Indonesia. Mari kita lihat sejarah. Para pendiri bangsa ini awalnya membentuk Pancasila dari Piagam Jakarta, silahkan dibaca ada penggalan mengenai kalimat yang merujuk pada keimanan salah satu agama di Indonesia, namun ketika dirumuskan dan diangkat ke forum diskusi untuk disahkan konsep Pancasila, kalimat tersebut akhirnya diubah dan menjadi Pancasila yang kita junjung sekarang.

Jika ditelaah dari kaca mata sejarah, tidak mungkin sesuatu yang sudah dipatenkan dan menjadi konstitusi dihadapan bangsa lain akan digeser dan tergantikan? Akan ada Negara barukah? Saya rasa ini tidak mungkin, sebab Indonesia terbentuk atas dasar Bhineka Tunggal Ika. Saya bingung mengapa ada konsep perubahan pemikiran pancasila diinterpretasikan dan dituggangi oleh oknum-oknum politik dan ormas? Saya rasa kita hanya sedang diuji dan diganggu pemikirannya sebagai warga Negara Indonesia, agar kita tidak memperhatikan hal-hal yang harusnya dipikirkan seperti kualitas pendidikan, lowongan pekerjaan, harga sembako, pemberantasan korupsi, dll. Beberapa kejadian yang membuat terjadi aksi sebenarnya dapat terjadi karena ada oknum tertentu yang menyalahgunakan, maka terjadilah sebuah aksi ini dan itu atas dasar sesuatu.

Kita hanya harus berpikir semakin kritis mengenai berbagai masalah, jangan bicara sembarang jika tidak kompeten dalam masalah tersebut. Tapi bukan karena tidak kompeten maka kita berdiam diri persoalan Negara dan keutuhan bangsa, melainkan kita harus mencari kebenaran dan keutuhan fakta. Jangan mau dijadikan kambing hitam perpecahan agar Negara ini bubar, sesungguhnya penjajah itu tidak menghilang hanya cara mereka yang berbeda. Seharusnya bangsa ini sudah dan sedang menikmati hasil jerih payah umur yang ke 71 tahun dan beberapa bulan akan ke 72 tahun. Mari kita bangun negeri ini menjadi lebih baik.  

Permasalahan keributan yang muncul beberapa bulan belakang juga termasuk karena kita dalam bermasyarakat kurang toleran. Kita hanya selalu hidup dalam lingkungan homogen. Saya orang islam bergaul dengan sesama islam tanpa pernah berkenalan dengan orang nonmuslim. Begitu juga orang-orang nonmuslim mereka bergaul dengan sesamanya.  Jika kita selalu mengaitkan toleransi dengan agama tanpa memahami makna sesungguhnya yang ada kita akan menjadi sesorang yang penuh kebencian. Semua agama menganggap agama mereka benar. Misalnya saya sebagai seorang beragama Islam menyakini agam saya itu benar dan yang lain kafir, agama Nasrani pun sama menganggap agama mereka paling benar, agama Budha menganggap mereka adalah agama paling benar, dll. Pemikiran tersebut sudah terbiasa tertanam dalam pikiran kita, lalu mengapa terjadi keributan soal agama? Kita mengungkit sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan sehingga timbul menjadi masalah. Semua agama juga mengajarkan kita harus menghargai orang yang beragama di luar agama yang kita anut, berbuat baik terhadap mereka, bertanya dan bertegur sapa. Persoalan agama jangan dikaitan dengan interaksi sosial karena akan timbul rasa curiga.

Kita kurang terbuka persoalan menghargai dalam bertukar pikiran nonagama. Toleransi merupakan hal sosial. Toleransi berikaitan dengan interaksi dan sikap. Jika dalam hal ini toleransi selalu dikaitkan dengan agama kita salah besar. Kita bangsa dengan berbagai suku dan bangsa. Bahasa kita berjuta-juta. Konsep toleransi juga harus diterapkan pada hal tesebut. Jika rasa toleransi tinggi maka nega ini akan baik-baik saja.

Kemudian, rasa kebersamaan bangsa ini mulai turun. Nasionalisme kita sudah sejauh mana. Di gedung hijau sana sudah sejauh mana negara ini dibahas. Nasionalisme bukan tentang kita seorang politikus, warga biasapun mempunyai peran besar ketika rasa nasionalismenya tinggi. Seorang yang nasionalismenya tinggi akan mempunyai pemikiran mempertahankan keutuhan negaranya, mencintai tanah airnya. Tidak memikirkan kepentingan diri sendiri tapi orang lain. Ketiga hal yang saya jelaskan diatas merupakan opini diri saya sebagai warga sipil. Saya tidak pernah ingin bangsa ini tercerai berai. Malu pada dunia. Malu pada jargon Macan Asia. Semua kembali kepada prinsip dan sikap pribadi sebagai warga negara Indonesia.  Jayalah bangsaku dan negeriku, Indonesia.



Penulis: 
Rifa Nurafia

___________________________
Image Credit : muda.dutadamai.id

Nasionalisme Romo Mangunwijaya dalam Novel Burung-Burung Manyar

April 15, 2017
Rama Mangun (dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa). Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami-istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah. Nama aslinya adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah 6 Mei 1929 dan meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999. Pengarang dengan kemampuan serba bisa alumnus Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959), Teknik Arsitektur ITB, Bandung (1959), Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966), Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978). Karya novel yang membawa namanya terangkat dalam dunia kesusastraan lewat penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996 yaitu novel berjudul 'Burung-Burung Manyar‘ (BBM), novel tersebut menjadi bagian penting dari kesustraan di Indonesia.




Romo Mangun lewat karya novel BBM memberikan kesan pada pembaca soal nilai-nilai moral, terutama nilai nasionalisme bahwa sesungguhnya pengabdian pada bangsa sendiri lebih penting dari pada berpihak pada bangsa lain. Nilai-nilai moral itulah yang membuat sastra mempunyai nilai tinggi sebagai kebudayaan batin suatu bangsa, sebab pada sastra terutama novel mengajak kita berpikir, merenung, tentang tindakan tokoh-tokoh dan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan itu. Sehingga, pembaca menemukan teladan ketika menikmati sebuah karya sastra terutama novel bagi kehidupannya.

Rasa nasionalisme merupakan perasaan yang ada dalam diri seseorang mencintai bangsa, merelakan diri dan berjuang untuk kepentingan dan nama baik bangsa. Sebuah rasa yang mungkin harus terus digali dan diperbaharui terus menerus agar tetap ada dan tidak menghilang. Dalam karya novel Romo Mangunwijaya “Burung-Burung Manyar” para pembaca diajak mengetahui bagaimana rasa nasionalisme itu berkembang dari masa perjuangan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan. Sebuah novel sejarah yang ditulis dengan awalan seperti halnya menonton pertunjukan wayang.

Romo Mangunwijaya dalam novel BBM melihat revolusi Indonesia dari segi Belanda (KNIL) lewat sepak terjang tokoh Setadewa yang sadar dan berdiri di pihak lawan. Romo juga menyajikan sebuah realita rasa nasionalisme pada masa penjajahan lewat tokoh Atik. Pergejolakan antara kedua tokoh tersebut terbalut dalam persoalan percintaan yang berbalut dengan polemik politik dan cinta terhadap bangsa sendiri. 

Sebuah persoalan nasionalisme yang sampai zaman sekarang mungkin perlu dipertanyakan pada setiap individu yang mengaku berbangsa, sudah sejauh mana rasa nasionalisme itu tumbuh pada diri kita masing-masing. 

Romo Mangunwijaya lewat tokoh-tokoh dalam novel BBM melabrak dan menggugat kebatilan, pengkhianatan berikut akibat yang ditimbulkan. Sehingga nasionalisme pada novel Burung-Burung Manyar memberikan cakrawala serta pengalaman bagi para pembaca yang ingin melihat berbagai sisi kehidupan tidak hanya dari satu sudut pandang.


Penulis: 
Rifa Nurafia


Bibliografi:
Rahmanto, B . Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo. 2001. horisononline.or.id, diunggah 31 Desember 2016, pukul 14.00 WIB.

______________
Image Credit : gr-assets.com

Sekar yang Malang

April 12, 2017
Saya adalah seorang guru bahasa Indonesia di salah satu SMP swasta di daerah Gunung Sindur. Sudah hampir 3 tahun saya mengabdi di sana. Tahun ke tahun pasti saya menemukan siswa-siswi yang berbeda maupun sama sifat dan tingkah lakunya. Ada yang mudah diatur bahkan sulit diatur. Ya namanya juga seorang guru, jika tidak ada siswa yang sulit diatur mungkin belum bisa disebut guru jika belum berhadapan dengan para siswa sepeti itu.

Seiring berjalannya waktu, tak terasa saya hampir mengabdi 3 tahun di sana. Setiap bulan Juli pertengahan setiap sekolah pasti memiliki siswa yang baru masuk, ya bisa dibilang sebagai pengganti yang sudah terlepas di sekolah. Ya, itu siswa baru yang setiap tahunnya pasti lahir dan hadir di sekolah. Pada tahun ini sekolah saya hanya menerima 2 kelas, sebenarnya bisa lebih hanya karna kurangnya ruangan jadi kami hanya cukup membuat dua kelas saja.

Waktupun telat tiba saatnya saya bangun dari istirahat yang panjang, tak panjang sih, wong cuma 2 minggu. Ya, tiba saatnya mengajari anak-anak orang he he he... Kali ini saya harus berhadapan dengan anak-anak yang sebelumya belum pernah saya temui dan diajarkan. Tinggal selangkah lagi saya melangkah menuju ruang kelas. Rasa guguppun hadir dalam benak, maklumlah ya pertama kali bertemu mereka. Saya pun dengan manisnya masuk ruang kelas dan dengan manisnya duduk di kursi yang sudah tersedia di kelas. Saya perhatikan sekitar kelas, ya benar tidak satupun yang saya kenal. Demikian juga mereka belum kenal dengan saya.

Seperti biasa jika hari perdana sekolah, ritualnya ya belum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, biasanya ya kami hanya berkenalan satu persatu. Mulai dari mengenalkan nama, alamat rumah, dan dari Sekolah Dasar mana. Satu persatu mereka pun berkenalan dengan wajah yang malu-malu. Selesai mereka memperkenalkan diri, ya selanjutnya giliran saya yang memperkenalkan diri. Biasanya sih jika saya sudah memperkenalkan diri, saya selalu melontarkan pertanyaan seperti ini "Apakah ada yang ditanyakan?". Biasanya sih pasti ada saja salah satu siswa yang bertanya mengenai status " Bapak sudah menikah?" tanyanya. Ha ha ha ha, aduh inilah pertanyaan yang tersulit untuk dijawab (dalam hati). Sudahlah lupakan saja hal ini, sebenarnya cerita ini bukan menceritakan tentang awal mengajar di kelas tujuh sih, ya sudah lupakan, saatnya fokus kembali ke tema yang akan dibuat. Sebenarnya sih di awal cerita belum dijelaskan sama sekali temanya apa he he he... Oke saya akan cerita mengenai tema dalam ceita ini.

Seperti biasa, jika ada materi tentang cerita dongeng, cerpen atau kutipan novel, pasti saya akan menugaskan kepada seluruh siswa untuk membaca secara bergantian. Ya hal ini mungkin biasa, tapi kegiatan ini yang membuat para siswa tertarik untuk membaca dan bisa memahami maksud dari cerita tersebut. Saatnya memulai untuk membaca sebuah dongeng. Saya lupa judul dongengnya apa, yang pasti ceritanya menarik. Saya pun menujuk seorang siswa untuk membaca paragraf pertama. Setiap siswa yang ditujuk, akan membaca satu paragraf. Setelah saya menunjuk seorang siswa yang sudah lancar membacanya dan dia sudah selesai membaca paragraf pertama (sebut saja namanya Mawar he he he). Selanjutnya saya kan menunjuk siswa yang lain.

Tangan ini pun tertuju kepada siswi yang duduk paling belakang. Sebut saja namaya Sekar, terlihat raut mukanya malu-malu untuk membaca, beberapa kali ia menolak untuk membaca. Saya pun terus memaksa dia untuk membaca tapi tetap saja menolak, ya saya pikir sih mungkin dia malu untuk membacanya. Akhirnya saya pun menunjuk siswa yang lain.

Pertemuan selanjutnya materi yang diajarkan masih mengenai dongeng, tak bisa dipungkiri pasti akan bertemu dengan teks dongeng. Ya betul sekali dugaannya, seperti biasa saya akan melakukan membaca secara bergantian. Kali ini saya masih mengagumi si Sekar untuk membaca pertama teks dongeng tersebut. Lagi-lagi iya menolak untuk membaca. Karena saya pun tak mau memaksa karena takut anaknya menangis atau apalah, jadi saya melupakan dia sejenak. Tapi pada saat saya menunjuk siswa yang lain terdengan celetukan dari seorang siswa bahwa si Sekar itu membacanya belum lancar. Sambil menunjuk siswa yang akan membaca teks selanjutnya saya menghampiri Sekar dan sambil berbisik, "coba di rumah harus rajin-rajin membaca ya" bisikku. Iya hanya menggerakkan kepalanyanya saja, sebagai petanda bahwa iya akan melakukannya.

Tak terasa kegiatan belajar mengajar tahun ini sudah hampir berjalan tiga bulan. Biasanya jika kegiatan belajar mengajar sudah berjalan tiga bulan, maka akan dilaksanakan Ujian Tengah Semester atau yang sering disebut UTS. Dalam kegiatan ini para siswa akan diuji ketercapaian belajarnya selama tiga bulan. Mereka akan menghadi soal-soal yang sudah disediakan oleh para guru.

UTS pun dimulai, seperti biasa saya mendapatkan jadwal mengawas. Saya mendapatkan jadwal mengawas hari Selasa, Kamis dan Jumat. Karena hari Selasa saya masih di Pekalongan, jadi hari tersebut digantikan oleh guru lain, biasanya sih yang selalu menggantikan guru yang berhalangan hadir Bu Hanun he he he... Hari Kamis pun tiba, padahal pukul setengah enam baru sampai rumah, intinya saya baru pulang dari Pekalongan. Karena sudah izin satu hari, mau tak mau hari ini pun harus datang, dengan mata yang berat untuk dibuka dan berwarna merah saya pun memaksakan diri untuk datang ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, dan memang saya datangnya pas sekali dengan jam masuk sekolah, jadi saya pun langsung bergegas untuk mengambil soal-soal ujian. Saya mendapatkan di ruang 03, sesampainya di sana saya langsung membagikan soal kepada seluruh siswa. Mata pelajaran yang diujikan hari ini yaitu Bahasa Inggris. Siswa pun mulai mengerjakan soal.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat, waktu mengerjakan soal tinggal menghitung menit saja. Sudah ada beberapa murid yang sudah menyelesaikan soal-soal, dan ada juga beberapa murid yang mulai panik karena belum menyelesaikan menjawab semua soal. Ada yang mulai tengak-tengok sana-sini, ada yang mulai memanggil temannya, dan ada juga yang santai saja mengerjakan. Jujur kalau saya sudah melihat anak yang ribut menyontek, saya langsung bilang "yang menyontek nanti kertasnya saya ambil, bila perlu saya robek dan langsung mendapatkan nilai nol" ujarku. Sontak suara ramai para siswa mulai mereda.

Bel pun berbunyi menandakan ulangan hari ini telah selesai. Siswa yang sudah selesai mulai mengumpulkan lembar jawabannya di meja pengawas, dan satu persatu keluar ruangan. Namun berbeda dengan Sekar dan Wiro, dia masih santai saja mengerjakan soal, tidak terlihat panik dan tak menghiraukan teman-temannya yang sudah keluar ruangan. Tapi saya memberikan waktu untuk mereka agar menyelesaikan semua soal. Tak lama Wiro pun sudah menyelesaikan soalnya, tersisa Sekar yang masih duduk manis di tempat duduknya. Saya masih setia menunggu, dan tak lama iya pun menyelesaikan soal tersebut. Ia pun menghampiri saya di depan kelas, dan mengumpulkan kertas jawaban. Namun iya tak langsung ke luar ruangan.

Tak seperti biasanya, ia mengobrol  dengan saya. Ya memang kalau di kelas kan ia sangat pendiam dan pemalu. Ia pun mulai mengeluarkan ujaran-ujaran di dalam alat bicaranya. "Pak saya boleh bicara sesuatu gak?, tapi Bapak jangan bilang sama teman-teman dan guru yang lain ya?"ujar Sekar. "Memang kamu mau bicara apa, sampai teman-teman kamu dan guru-guru tidak boleh tahu", ujarku. "Tapi Bapak janji ya tidak bilang dengan siapa-siapa ya? Jadi gini loh Pak, sebenarnya selama ini saya belum bisa membaca, makanya saya sering menolak jika Bapak menyuruh saya membaca", ujarnya. "Iya janji, oh jadi begitu, ya walaupun kamu membacanya masih belum lancar tak apa-apa ko, yang penting masih bisa, kan saya selalu bilang sama kamu, coba di rumah sering baca buku supaya membaca kamu lebih tambah lancar" ujarku. "Pak sebenarnya bukan begitu, tapi saya memang belum bisa membaca sama sekali", ujarnya. Hati saya pun langsung terketuk, dalam hati masa sih anak kelas 7 masih belum bisa membaca? waktu duduk di Sekolah Dasar dan menghabiskan waktu 6 tahun, ngapain aja?. "Hah, benar sama sekali belum bisa baca? memang di rumah orang tua atau kakak kamu tak mengajarkan membaca?" ujarku. "Benar Pak, orang tua saya sibuk bekerja, kakak saya pun sama, malah adik saya sudah bisa membaca, jadi saya minta Bapak untuk mengajarkan saya membaca mulai dari huruf abjad soalnya saya belum hafal semua huruf abjad" ujarnya. Wajahnya terlihat sangat sedih sekali. "Jadi begitu ya, sulit juga sih kalau tidak ada yang membantumu di rumah, jadi kamu minta saya untuk mengajarkan kamu, kalau saya sih bisa-bisa saja cuma mungkin yang menjadi halangan waktu saja, paling saya bisa mengajarkan kamu di hari Selasa dan Kamis saja", ujarku. "Iya Pak tidak apa-apa, yang penting Bapak bisa mengajarkan saya membaca. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih ya Pak" ujarnya. "Iya sama-sama, tapi mulainya jangan di minggu-minggu ini ya soalnya banyak kerjaan koreksian soal UTS, mungkin mulai di minggu depan kita mulai belajar membaca", ujarku. "Iya Pak tidak apa-apa, kalo begitu saya pamit pulang ya Pak, Wassalamu'alaikum" ujarnya. "Iya, Waalaikum salam" ujarku. Iya pun langsung menghilang dari pandanganku. Saya pun langsung ke luar ruangan dan menuju ruang guru untuk menyerahkan lembar jawaban siswa.

Karena ujian hari ini sudah selesai, saya pun bergegas untuk pulang. Di sepanjang perjalanan saya masih kepikiran dengan si Sekar, bagaimana bisa dia sudah kelas 7 masih belum bisa membaca sama sekali. Terus selama 6 tahun ngapain aja, guru-gurunya kemana? apakah mereka tidak mengajarkan atau mereka gak memperhatikan anak ini, terus fungsinya sebagai guru apa? masa ada siswa yang belum bisa membaca dibiarkan saja?. Kalau bisa membaca terus kalau membaca soal ujian anak ini bagaimana? cuma ngasal jawab saja, atau melakukan hal yang lain. Membaca itu sangatlah penting dalam proses belajar mengajar. Dan orang tuanya mana? Mana peran orang tua kepada anaknya seharusnya sebagai orang tua bisa mengajarkan membaca dan memperhatikan anaknya.


Kalau menurutku, jika anak itu tidak bisa membaca dan pada saat menjawab soal ujian mungkin iya menjawabnya dengan asalnya. Terus hasil nilainya bagaimana? Saya agak meragukan tentang nilainya, mungkin bisa saja nilanya anak ini rendah, dan mungkin bisa saja iya tidak naik kelas. Nah kalau memang dia harusnya tidak naik kelas, terus kenapa harus dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi. Terkadang hal yang tidak saya sukai di pedidikan di negeri ini yaitu, ada anak yang belum berhasil dalam belajarnya tetap saja dinaikkan, atau orang tuanya memberikan amplop kepada pihak sekolah supaya anaknya dinaikkan.

Coba lihat negara lain, jika ada anak yang memang harus tinggal kelas, ya harus tinggal di kelas dan orang tua pun harus menerima lapang dada. Jadi si Sekar adalah contohnya dimana siswa ini dipaksa untuk naik kelas, sebenarnya bukan dia saja sih, pasti ada saja di sekolah-sekolah lain melakukan hal itu. Oh iya saya pun jadi teringat dengan peraturan dari dinas atau pemerintah, dimana dalam sebuah raport nilai anak tak boleh ada yang di bawah KKM. Hello, ini sungguh tak adil, gimana dengan anak-anak yang serius belajar, iya rela belajar dengan keras untuk mendapatkan nilai yang bagus, tapi ini anak yang tidak bisa sama sekali yang seharusnya mendapatkan nilai yang di bawah KKM nilainya harus dinaikkan. Terkadang miris melihat pendidikan di negeri ini, anadaikan kita bisa meniru pendidikan negara lain. Mungkin di negara kita akan merlahirkan siswa-siswa yang berhasil dan negara kita akan maju jika proses belajar siswa di negara kita tidak dimanupulasi dengan sistem nilai yang bohongan dan anak dipaksa untuk naik kelas. Jadi yang salah siapa Orang tua kah atau guru yang menyebabkan si Sekar tidak bisa membaca sama sekali?. 

Eh, kko jadinya curhat ya ha ha ha... Maaf soalnya terkadang gereget juga kalau membicarakan pendidikan di negeri ini. Okay, kembali lagi mengenai si Sekar. Mulai minggu depan saya akan membantu dia untuk belajar membaca dari awal yaitu huruf abjad. Semoga saya bisa membantu Sekar untuk bisa membaca dengan lancar dan saya mempunyai waktu yang lebih banyak lagi untuk membantu anak ini. Okay, sudah dulu ya cerita kali ini.


Penulis:
Muhamad Romli



_________________________
Image credit : shutterstock.com

Suka-Duka Kuliah Sambil Kerja

April 06, 2017

Setiap orang di dunia ini pasti punya mimpi. Agar bisa mewujudkan apa yang diinginkan, tentu semua orang harus berjuang dengan gigih. Memang banyak juga orang yang sudah terlahir berkecukupan bahkan kaya dari orang tuanya, dan mereka yang dari keluarga biasa-biasa saja tentu harus berjuang lebih giat.

Alhamdulillah saya terlahir dari keluarga yang sederhana, yang enggak sekaya Budi Hartono, bahkan Chairul Tanjung. Dan otomatis saya harus bekerja lebih keras meraih apa yang saya inginkan dan saya tidak bisa minta terus kepada orang tua. By the way, disini saya akan curhat dan sharing tentang pengalaman menyenangkan menjadi orang yang harus kerja keras dan kuliah demi masa depan.

Setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk kerja dan juga kuliah. Saya nekat melakukan hal ini agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri. Yaps, harga yang harus dibayar atas keputusan tersebut adalah saya harus berangkat kerja dari pagi sampai sore hari, lalu dilanjutkan kuliah dari sore hingga malam hari. Mungkin diantara kalian semua ada yang merasakan hal yang sama, dan mungkin juga ada yang sekarang masih sekolah dan berencana untuk kuliah sambil kerja, atau kuliah saja, atau kerja saja. So, pada kesempatan ini saya mau sedikit sharing tentang suka-duka menjalani kuliah sambil kerja.



1. Menjadi Lebih Mandiri dan Bertanggung Jawab

Dari sini kamu bisa menempa diri menjadi pribadi mandiri, yang enggak harus minta lagi ke orang tua, dan kamu belajar bertanggung jawab atas pendidikan yang kamu ambil sendiri yang sudah kamu putuskan dan ini harus sampai selesai. Ini tidak akan membuat kamu menjadi anak yang lemah dan manja (tapi kalau manja sama dia engga apa-apa kali, ya? Hehehe). Kamu akan tangguh menghadapi masalah dan bertanggung jawab atas masalah yang ada. Mulai dari masalah di kerjaan (kantor), masalah di kampus, bahkan masalah sama pacarnya gebetan kamu, yang sudah kamu rebut. Hahaha.   

2. Tugas Jadi Double

Jika kalian hanya kuliah saja, terus malas-malasan, kalian harus malu! Bisa kamu bayangkan sendiri, setiap hari saya dan orang-orang lain yang seperti saya, punya tugas double dari kantor dan kampus. Tak jarang Bos dan Dosen sama teganya. Mereka tidak mengerti kalau tugas kita banyak banget, haha. Sebenernya saya bisa mengaturnya, saya bisa mengerjakan tugas kuliah pada saat ada waktu di sela-sela kerja. Tapi kadang  jika ada tugas kantor dan kampus yang sama-sama deadline, saya bingung mau ngerjain yang mana lebih dahulu. Ibarat kamu sudah punya janji sama si doi, tapi sahabat  kamu minta ditemani jalan. Dua-duanya penting!

Ada kejadian menarik yang saya alami, saking deadlinenya kedua tugas tersebut, akhirnya saya ngelembur sampai sore banget. Beberapa menit sebelum kuliah dimulai, saya masih dikantor, padahal saat itu saya harus presentasi. Akhirnya saya langsung cusss ke kampus dan presentasi, tapi ternyata yang saya tampilkan di depan kelas malah presentasi untuk meeting besok. Bukan bahan kuliah yang akan saya presentasikan, duuuh.... Ini adalah pelajaran penting untuk saya agar lebih teliti lagi. 

3. Lebih Menghargai Waktu

Jika kamu kerja sambil kuliah, kamu bakal mengerti bagaimana kamu harus bisa menghargai waktu yang kamu punya. Setiap hari kamu harus menghabiskan waktu dari pagi sampai sore untuk kerja, dan sore sampai malam untuk kuliah, belum lagi jika ada tugas kuliah. Kalau sudah sampai di rumah pun, kamu harus mengerjakan tugas dahulu, baru bisa bobok. Kalau ada diantara kamu yang kuliahnya di hari Sabtu dan Minggu, berarti kamu adalah orang hebat, yang setiap hari harus bangun pagi tanpa henti, tujuh hari dalam seminggu. Haha.

Otomatis, waktu bersama keluarga, teman bahkan gebetan jadi sangat minim. Akhirnya, kamu akan sadar bahwa waktu itu sangat penting, terutama untuk orang-orang yang kita cintai. Kita akan sadar bahwa kita sangat tidak boleh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Kamu tidak akan lagi ngaret, karena segala sesuatunya telah diukur dengan matang. 

4. Menghargai Jerih Payah

Kamu akan lebih menghargai pelajaran di kampus, karena ini adalah hasil jerih payahmu. Kamu akan berpikir sudah berapa banyak waktu dan materi yang kamu habiskan demi mendapatkan mendapatkan pendidikan beserta gelarnya. Saya sering berpikir sejauh itu hanya untuk menyemangati diri saya sendiri di saat saya capek dan malas untuk berangkat ke kampus. Hahaha. 

5. Lebih Sering Mengantuk

Ini adalah hal yang sangat sering saya alami. Saya paling kesal jika ada deadline tugas kantor dan kuliah secara bersamaan. Karena itu, saya harus mengantuk di kantor gara-gara mengerjakan tugas kuliah sampai pagi, dan saya mengantuk di kelas karena mengerjakan kerjaan di kantor seharian yang membuat badan saya lelah dan ingin cepat-cepat memeluk bulan bantal, haha. Tapi saya punya solusi sendiri. Saya punya cara khusus mengusir ngantuk, yaitu membasuh wajah dan membaca Ayat Kursi. Trust me, it works. Haha. 

6. Setiap Hari Pulang Larut Malam

Bukan rahasia lagi kalau saya sering pulang larut malam. Setelah beres kuliah, kadang sampai pukul setengah sepuluh malam, kalau saya sedang lapar saya suka cari makan dulu. Belum lagi kita harus mengimbangi pergaulan kita di kampus. Otomatis, saya harus ikut ngumpul dulu dengan teman-teman, bahkan kadang juga saya menginap di rumah teman, atau sekedar menumpang tidur beberapa jam untuk menghilangkan kantuk di jalan. Makanya, melihat kasur di rumah adalah pemandangan yang sangat indah. Bisa bobok dengan tenang karena sudah melewati berbagai kesibukan seharian penuh. Ketika pagi datang, saya harus rela dan ikhlas meninggalkan dia (kasur) yang sudah menemani tidur saya sampai lelah hilang, dan saya harus siap-siap lagi menjalankan rutinitas seperti biasa, dari pagi sampai malam lagi.

7. Tidur Seharian di Waktu Libur

Dengan ditandai saya pakai baju bebas ke kantor, itu tandanya adalah hari Sabtu, Saat itu saya bisa santai-santai di kantor sambil menunggu jam 12 siang, hanya setengah hari. Setelah itu, saya bisa langsung pulang dan tidur di rumah sampai sore. Saat malam tiba, saya siap-siap untuk berkumpul bersama sahabat-sahabat saya, yang membuat capek saya berasa hilang. Berkumpul bersama sahabat adalah hal istimewa yang bisa melupakan segala beban, termasuk beban kerja dan kuliah.

8. Dapat Teori + Full Praktik

Alhamdulillah saya memiliki pekerjaan yang hampir nyerempet-nyerempet dengan jurusan kuliah. Saya bisa mendapatkan ilmu yang dapat saya praktikkan langsung di tempat kerja. Ternyata, di dunia kerja tidak seribet apa yang diajarkan di kelas, yang terpakai hanya 10-20%. Jadi, saya mendapatkan ilmu yang berlipat-lipat di luar kelas. Saat saya tidak dapat ilmu di kelas, saya mendapatkannya di kantor, pun saat saya tidak dapat ilmu di kantor, saya mendapatkan ilmu itu di kelas.

9. Punya Pekerjaan

Salah satu keuntungan yang saya rasakan adalah saya merasa lebih maju dari teman-teman seangkatan dengan saya, karena ada satu hal yang saya tekunin dari awal yaitu pekerjaan dan saya dapat kuliah yang setara dengan mereka. Jadi di saat teman-teman saya sibuk mencari kerja setelah lulus, saya bisa dengan santai duduk di kantor sambil menunggu pengangkatan jabatan karena  gelar S.E. saya yang baru. Hehehe. 

10. Kipasan Pake Duit

Pada saat saya gajian saya merasa menjadi orang tajir yang baik hati, hahaha. Karena saya memiliki kebanggan sendiri yang saya dapatkan dari hasil keringat saya. Rasa pusing dan mual hilang sekejap ketika gajian tiba. Dan saya pun bisa berbagi kepada orang tua saya, dan adik-adik saya dan selebihnya saya pakai untuk tabungan masa depan, jajan, dan jalan-jalan. Happy dech.


Walaupun ada plus dan minusnya, saya selalu bersyukur dengan apa yang saya jalani sekarang ini. Untuk kalian yang mau cobain serunya kuliah sambil kerja saya akan memberikan beberapa tips: Pertama, cari pekerjaan yang menurut kamu itu baik untuk dikerjakan. Jangan sampai ketika kuliah kamu sudah bikin pusing, kamu merasa tambah pusing sama kerjaan. Kedua, belajarlah mengatur waktu dengan baik, karena kuliah dan kerja adalah hal yang sama-sama penting, dan kunci utama agar semuanya beres adalah mengatur waktu dengan baik. Jika kamu merasa sudah tidak kuat untuk melakukannya lagi karena merasa sudah di luar batas kemampuan manusia, kamu tinggal ingat dengan gajian saja, haha…, dan jangan pernah lupa untuk selalu mengingat Tuhan kamu, agar kamu selalu mendapatkan kemudahan dari-Nya. Aamiin.

Izinkan saya mengutip quote dari Pramoedya Ananta Toer sebagai penutup tulisan ini :)

"Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri" ― (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia).


Penulis: Ridho Destianto
Penyunting: Muh. Abdul Farid



__________________
Image credit : careers360.mobi

Berteman: Utamakan Kuantitas atau Kualitas?

April 06, 2017


Mempunyai banyak teman dapat memudahkan kita dalam menangani segala urusan. Mengapa demikian? Tentu saja karena semakin banyak teman, semakin banyak pula yang akan hadir dikala kita sedang dalam kesukaran. Teman siap membantu, teman siap mengurangi kesulitanmu. Ada banyak hal positif yang dapat kita ambil dengan memiliki teman sebanyak-banyaknya. Memiliki banyak teman pun membuat kita lebih luwes dalam berinteraksi dengan orang baru. Tak diragukan lagi bahwa orang yang memiliki cukup banyak teman akan memudahkan mereka dalam mencari koneksi. Sehingga jika ada suatu hal yang dibutuhkan untuk penyelesaian masalah, mereka yang memiliki banyak teman akan lebih mudah menemukan jalan keluar.

Tetapi, semakin dewasa seorang manusia, mereka biasanya tidak mementingkan lagi perihal kuantitas melainkan kualitasnya. Tentu kita yang sudah dewasa memahami jika semakin kita dewasa, mencari teman itu akan menjadi hal yang cukup sulit. Kebanyakan dari kita yang telah beranjak dewasa, lingkaran pertemanan dekatnya hanya berasal dari teman-teman lama. Teman yang memang sudah kenal dari kecil atau teman-teman semasa sekolah dulu. Mengapa sering terjadi seperti itu? Berikut beberapa opini yang saya buat perihal masalah tersebut.

1. Perbedaan Usia

Banyak dari kita yang sudah berada di lingkungan kerja sulit sekali mendapatkan teman yang cocok karena perbedaan usia. Sebenarnya sah-sah saja berteman dengan seseorang yang jauh lebih muda ataupun yang lebih tua, tetapi terkadang perbedaan usia seringkali membuat kita sukar mencari topik pembicaraan yang sesuai, karena pengetahuan kita yang biasanya hanya mencangkup hal-hal yang berada pada masanya saja, menyulitkan kita untuk berkomunikasi dengan baik. Tentu jika dalam pencarian topik pembicaraan saja sulit, maka hubungan pertemanan seperti apa yang akan dijalani?

2. Ada Banyak Unsur Kepentingan

Kita tidak bisa menampik jika semakin kita dewasa, rasa kepercayaan yang kita miliki kepada orang lain akan semakin sedikit. Banyaknya unsur kepentingan diantara hubungan kita dengan orang lain membuat kita mau tidak mau harus selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang ada.

3. Mulai Malas Menyesuaikan Diri

Ketika kita tidak lagi mementingkan kuantitas pertemanan, maka kita akan lebih sering merasa puas dengan diri sendiri dan mulai menutup diri dari hal-hal baru. Jika sudah seperti ini, maka mereka akan lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitasnya. Karena kita akan lebih sering memilih berteman dengan mereka yang memiliki kesamaan karakter, hobi, ataupun cara pandang.

4. Kemajuan Teknologi

Tak dipungkiri, kemajuan teknologi telah memudahkan kita dalam berbagai hal. Media elektronik diminati oleh seluruh hampir umat manusia di dunia karena kemudahannya. Budaya silahturahmi (bertemu/tatap muka) mulai ditinggalkan. Sehingga lingkaran pertemanan kita akan sulit meluas karena seringnya kita yang berinteraksi hanya lewat media elektronik. Sudah sangat jelas jika interaksi terhadap sesama lebih terasa maksimal jika dengan bertatap muka langsung dan bukan hanya lewat lisan apalagi tulisan.

Pada akhirnya, kuantitas ataupun kualitas sebenarnya adalah kedua hal yang saling berkaitan. Tentunya bagi saya, kualitas merupakan hal yang lebih penting. Memiliki banyak teman tapi bukan teman-teman yang baik maka tentunya kalian semua sepakat untuk lebih baik memiliki teman yang hanya sedikit. Menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada sangat diperlukan untuk terus menjaga kualitasnya. Membuka diri terhadap lingkungan yang baru pun sama pentingnya karena akan membuat diri kita terbuka terhadap peluang-peluang baru. Jadi, perihal kualitas dan kuantitas pertemanan ada baiknya jika keduanya diseimbangkan. Sebab segala sesuatu yang seimbang akan menuntun kita kepada keselarasan.


Penulis:
Bahha Taqiya



____________________
Image Credit: huffpost.com



Nicholas Sparks Books To Movie

April 04, 2017

Nicholas Sparks adalah salah satu penulis favorite saya karena film-film yang diadaptasi dari novelnya, selalu juara. Berhubung karena saya adalah romance addict, karya-karya Sparks menduduki posisi paling atas daftar film yang saya suka. Jadi, buat kamu yang juga gemar dengan cerita-cerita romansa, simak beberapa pendapat saya tentang karya-karyanya. Barangkali bisa dijadikan rekomendasi untuk bahan bersantai di akhir pekan. Bersama keluarga, atau mungkin pacar kalau punya. Hihi

Sebelumnya disini saya tidak akan mengupas seluruh film yang telah diadaptasi dari karya-karya Sparks. Hanya ada beberapa saja yang akan saya sebutkan. Perlu kalian ketahui, disini saya juga tidak akan memposisikan diri saya seolah-olah seperti kritikus film. Saya akan memberikan pendapat yang asalnya benar-benar dari penilaian saya sendiri dan dari sudut pandang saya sendiri. Jadi untuk kamu yang berbeda pendapatnya dengan saya, tak apa. Sebab isi kepala manusia memang tak akan pernah sama. Hehe. 

Here we go...

1. The Best of Me

Kalau kalian sering baca review film-film terbaik dari Sparks, kalian pasti lebih sering menemukan mereka menulis judul The Notebook di urutan pertama. Tapi tidak bagi saya. The Best Of Me sukses menempati urutan pertama dalam list yang saya punya. Meskipun banyak kritikus film mengejek akting Dawson dan Amanda muda di film ini, saya rasa chemistry yang mereka buat cukup membuat orang yang melihatnya tenggelam dalam kisah cinta remaja yang sangat mempesona. Dilatarbelakangi perbedaan status sosial, Sparks mampu membuat konflik yang mereka hadapi begitu menyayat hati. 20 tahun tak bertemu dan masing-masing telah melanjutkan hidup, kedua sejoli ini kembali dipertemukan oleh cara yang tidak biasa. Pada akhirnya kita memahami bahwa cinta sejati akan selalu terukir hingga lubuk hati. Dan semesta akan selalu membantu mereka yang memang ditakdirkan bersama. Meski dalam ruang kehidupan yang berbeda.

2. Safe Haven

Di film ini, Sparks berusaha memperlihatkan sisi lain dari kemampuannya menulis cerita romansa. Nuansa thriller yang terdapat di dalamnya, membuat kita tak meyakini apakah ini benar-benar karya seorang Sparks yang selama ini kita kenal. Masih dengan unsur pemandangan yang begitu indah, Sparks membawa kita menyelami kehidupan desa kecil di tepi pantai. Pelarian Katie ke desa kecil itu mempertemukan ia dengan Alex. Seorang duda anak dua yang digambarkan begitu menyayangi keluarga. Selanjutnya cerita klasik pun terjadi, dua orang yang saling jatuh cinta karena sering bersama. Yang paling saya suka adalah chemistry yang dibawakan oleh dua sejoli ini benar-benar membuat saya jatuh cinta pada karakter yang masing-masing mereka bawakan.

3. The Last Song

Selanjutnya ada The Last Song. Sparks sepertinya sering sekali membawa unsur perbedaan status sosial dalam karya-karyanya. Terbukti tiga dari karyanya (The Notebook, The Best Of Me, dan The Last Song) selalu memuat unsur perbedaan status sosial diantara sejoli yang ia ciptakan. Lagi-lagi berlatar belakang pantai dan desa kecil, Sparks menyajikan pemandangan yang cukup indah. Tapi di film ini, Sparks tidak hanya mengangkat kisah cinta yang seperti biasanya ia buat. Ia membuat berbeda dengan menambahkan cukup banyak konflik keluarga. Dengan nuansa musik yang juga indah, telinga kita dimanjakan oleh beberapa permainan piano yang dibawakan oleh Ronnie. Seorang gadis yang mahir memainkan piano namun memilih untuk tidak memainkannya lagi karena membenci ayahnya yang tidak lagi bersama dengan sang ibu. Tawaran untuk masuk Julliard ditolaknya mentah-mentah hanya untuk menuruti sang ego. Namun bukan hanya kisah cinta romantis dengan pasangan yang saya suka disini, saya pribadi lebih tersentuh dengan banyaknya adegan cinta ayah-anak yang mereka bawakan di film ini.

4. A Walk To Remember

Kisah cinta masa-masa SMA memang yang paling indah, bukan? Dengan latar belakang kehidupan semasa sekolah membuat kita menyelami kembali kehidupan kita yang lalu. Karakter Jamie dan Landon yang sangat bertolak berlakang, tidak menjadi halangan untuk mereka bisa saling jatuh cinta. Landon dengan segala kepopulerannya di sekolah, dan Jamie seorang anak perempuan biasa yang barangkali setiap anak disekolahnya lebih mengenalnya sebagai gadis yang aneh. Kisah cinta mereka diuji saat Landon yang mulai benar-benar jatuh hati, mengetahui bahwa hidup Jamie tidak akan lama lagi. Sungguh kisah cinta yang sangat mengharukan.


Itu adalah 4 film terbaik dari daftar yang saya punya. Meskipun beberapa orang bilang karya-karya Sparks terlalu monoton dan ceritanya selalu memiliki unsur kesamaan diantara cerita-ceritanya yang lain, tetapi Sparks telah memiliki tempat di hati saya. Barangkali kalian pun memikirkan hal yang sama. Karya-karyanya selalu menjadi yang paling saya tunggu. Sebab sebagai pecinta romance, cerita-cerita yang dibuat oleh Sparks selalu berhasil menyita imajinasi saya akan cinta. Sungguh cinta memang sumber inspirasi yang tak ada habisnya.


Penulis:
Bahha Taqiya 


_________________
Image credit:

Kesetaraan atau Keadilan?

April 01, 2017


Dampak modernisme dan modernitas telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan manusia. Tidak hanya mengubah cara kerja manual-sederhana manusia menjadi cara kerja yang serba teknologi mesin kalau dilihat dari segi modernitas, tetapi lebih dari itu berperan utama mengubah cara pandang manusia dalam segala hal dengan pola pikir yang berhaluan modernisme.

Salah-satunya adalah munculnya wacana “gender” yang lebih konkret yang dilihat dari persfektif pola pikir modern itu tadi. Mungkin perlu saya tuliskan bahwa pola pikir modern adalah pola pikir yang bersifat antromorphosentris di mana tatanan kehidupan berpusat pada manusia. Hubungannya dengan masalah “gender”, konsep feminisme modern telah menggugat pola pikir tradisional-agama tentang kedudukan perempuan yang dibangun di atas landasan patriarkhis. Sistem patriarkhis menurut para feminis modern telah menjadikan perempuan kehilangan eksistensinya sebagai manusia yang sama dengan laki-laki, budaya patriarkhislah yang telah menyebabkan adanya bentuk ketidak-adilan dan ketidaksetaraan gender.

Karena alasan itulah, para feminis menggertak agama-agama yang memupuk dan menumbuhsuburkan budaya patriarkhis. Semua agama, menurut mereka selalu laki-laki yang berperan penting dan yang paling eksis dalam mengisi ruang historisitas agama-agama. Kata “nabi” misalnya, selalu menunjuk kepada laki-laki yang dalam pengertian terminologisnya, Nabi adalah utusan Tuhan di muka bumi – sebuah gelar dan tugas yang sangat mulia yang jarang disandang oleh seorang perempuan.

Tapi apakah para penganut agama yang memakai sistem patriarkhis akan membenarkan bahwa mereka telah membedakan perempuan dengan laki-laki dalam hal peran dan fungsionalitasnya sehingga yang terjadi adalah ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Di sinilah menurut saya perlunya membedah dan melakukan re-interpretasi (penafsiran kembali) terhadap makna keadilan dan kesetaraan gender.

Term “keadilan” dan “kesetaraan” selalu dipakai oleh para feminis secara bersama dalam satu tujuan, yaitu menghilangkan ketimpangan gender. Akan tetapi, sebenarnya term “adil” dan “setara” adalah dua kata yang berbeda yang tidak mempunyai koherensi makna. Sehingga akan menjadi rancu jika para feminis secara bersamaan memakai dua kata itu untuk menyerang dan menyatakan ketidaksetujuannya pada konsepsi keagamaan mengenai gender. Kenapa demikian? Karena konsepsi keagamaan tentang masalah gender (maupun terhadap masalah keagamaan lainnya)tetap memperhatikan keadilan, karena keadilan sudah menjadi prinsip universal dalam tradisi keagamaan, akan tapi di sisi lain cenderung mengecam kesetaraan.

Keadilan dalam pengertian yang sederhana adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional”. Sedangkan kesetaraan adalah membuatnya sama secara absolut tanpa melihat porsi subjeknya.

Laki-laki secara fisik-biologis (seks) berbeda dengan perempuan. Dan perbedaan seks-biologis itu secara alamiah ikut mempengaruhi sifat-sifat seksualitasnya, sehingga muncullah istilah maskulin untuk laki-laki dan feminim untuk perempuan. Maskulin menggambarkan laki-laki yang mempunyai fisik yang kuat, otot yang besar yang menjadi factor pendukung untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedangkan feminis mengambarkan perempuan yang mempunyai fisik yang lemah-lembut dan sifat penyayang, pengasih yang lebih menonjol daripada laki-laki. Perbedaan antara maskulinitas dan feminism ini saya kira bukanlah factor budaya melainkan sudah menjadi kodratnya karena perbedaan materi genetik pada perempuan dan laki-laki.

Maka konsekuensi dari perbedaan seks antara perempuan dan laki-laki di atas juga pada gilirannya akan berimplikasi pada peran kerja dan fungsionalitas yang saling berbeda pula. Kesimpulannya bahwa perbedaan seks secara fisik mempengaruhi perbedaan gendernya di mana laki-laki mengisi ruang hidup yang sangat luas dan perempuan, walaupun tidak sama dengan laki-laki tetap mempunyai ruang tersendiri dalam menjalankan kehidupan “keperempuanannya”. Memang ketika berusaha mencermati lebih mendalam perbedaan itu maka yang Nampak adalah ketidaksetaraan, tetapi di situlah letak keadilan gender. secara metaforis bisa diibaratkan dua botol yang tidak sama tinggi yang kemudian di isi dengan air sampai penuh, maka volumenya memang tidak sama tetapi tetap sama-sama penuh, itulah keadilan.

Lain halnya dengan kesetaraan, kalau kita melanjutkan perumpamaan di atas maka kesetaraan itu artinya adalah tetap ngotot menyamakan volume air dalam botol sampai sama besar walaupun ukuran botolnya tidak sama, hal yang mustahil untuk dilakukan bukan?

Begitulah pelaku budaya patriarkhis melihat phenomena gender. Dalam Islam contohnya, walaupun sering dituduh lebih meninggikan laki-laki daripada perempuan (mungkin dalam beberapa hal), tetapi nyatanya perempuan tetap dimuliakan, dan bahkan lebih mulia, yaitu ketika ia sukses membangun peradaban di wilayah domestic yang menjadi awal dan tempat pertama peradaban dunia menancapkan akar keadabannya. Artinya seorang ibulah yang memproduksi generasi-generasi manusia yang akan tetap memutar roda dunia sampai masa akhirnya.


Penulis:

Riswandi Yusuf
(Lulusan Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

__________
Image credit: secondlineblog.org

Menghadapi Tantangan Bonus Demografi

April 01, 2017


Indonesia menghadapi suatu fenomena demografi yaitu keadaan dimana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan proporsi penduduk usia non produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun) atau biasa disebut dengan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Fenomena bonus demografi ini merupakan wujud dari keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, proyeksi proporsi penduduk usia produktif pada tahun 2020 adalah sebesar 67,7 %, meningkat menjadi 67,9 % pada tahun 2025, serta 68,1 % pada tahun 2035. Proporsi penduduk usia produktif yang tinggi berdampak pada rendahnya rasio ketergantungan. Adapun proyeksi rasio ketergantungan pada tahun 2020 adalah sebesar 47,7, menurun menjadi 47,2 pada tahun 2020 dan 46,9 pada tahun 2030. Implikasi dari rendahnya rasio ketergantungan adalah rendahnya beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif dalam mencukupi kebutuhan hidup penduduk usia non produktif.

Bonus demografi merupakan suatu fenomena yang dapat mendatangkan keuntungan apabila penduduk dalam suatu negara dapat memanfaatkannya dengan baik. Peluang emas ini hanya terjadi satu kali bagi semua penduduk negara, atau biasa disebut dengan the window of opportunity. Oleh karena itu, Indonesia harus bisa memanfaatkan peluang yang hanya terjadi selama satu dekade saja, sehingga fenomena bonus demografi tidak menjadi bencana yang merugikan bangsa.

Adapun peluang dengan adanya fenomena bonus demografi adalah banyaknya penduduk usia produktif yang dapat meningkatkan produktivitas nasional sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai tingkat produktivitas yang maksimal, sumber daya manusia yang ada harus memiliki kualitas yang baik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Manusia pada tahun 2010 adalah 66,53 dan terus mengalami peningkatan menjadi 69,6 pada tahun 2015. Menurut catatan UNDP, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pembangunan manusia tercepat di dunia dan masuk dalam World Top Movers in HDI Development. Hal ini merupakan suatu hal yang positif bagi kemajuan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan harus terus ditingkatkan.

Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan berimplikasi pada meningkatnya produktivitas. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, angkatan kerja Indonesia masih didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan primer (SD) sebesar 26,55 % dan tingkat sekunder yaitu SLTP sebesar 18,04 % dan SLTA sebesar 18,05 %. Adapun angakatan kerja dengan tamatan Universitas hanya sebesar 8,34 %. Oleh karena itu, baik masyarakat maupun pemerintah masih harus terus berupaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan penduduk sehingga akan menciptakan sumber daya manusia berkualitas yang akan meningkatkan produktivitas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bonus demografi juga berpotensi untuk meningkatkan tabungan masyarakat. Hal ini merupakan implikasi dari menurunnya beban ketergantungan yang ditanggung oleh penduduk usia produktif, sehingga pendapatan yang diterimanya dapat digunakan untuk menabung. Tabungan masyarakat yang berlimpah dapat digunakan untuk investasi, sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian dan memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Ketersediaan lapangan pekerjaan merupakan faktor penting dalam menghadapi bonus demografi. Hal ini sangat penting untuk menampung tingginya penduduk usia produktif sehingga tidak menyebabkan tingkat pengangguran yang tinggi. Tingkat pengangguran yang tinggi merupakan salah satu ancaman yang dihadapi Indonesia dalam mengelola bonus demografi, sehingga diperlukan upaya serius dari berbagai pihak khususnya pemerintah dalam mengatasi permasalahan ini.

Upaya dalam menyediakan lapangan pekerjaan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, pemerintah harus memanfaatkan peluang investasi baik investasi domestik maupun investasi asing. Berdasarkan peringkat kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business), Indonesia berada di peringkat 109 dari 189 negara. Oleh karena itu, Indonesia masih harus terus melakukan perbaikan. Kebijakan deregulasi ekonomi yang telah diterapkan pemerintah merupakan suatu langkah yang tepat, sehingga berkurangnya hambatan investasi dapat mendorong investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia yang akan berimplikasi pada penciptaan lapangan pekerjaan. Selain itu, pemerintah juga harus memperbaiki infrastruktur serta menjaga kestabilan ekonomi, sosial dan politik sehingga akan tercipta iklim investasi yang kondusif.

Kedua, pemerintah harus mendorong berkembangnya UMKM. Sektor UMKM merupakan sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, sehingga perkembangan UMKM akan berdampak pada tingginya penyerapan tenaga kerja. Dan yang ketiga, sistem pendidikan Indonesia harus menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja nasional sehingga pengetahuan dan kemampuan angkatan kerja Indonesia sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini harus dilakukan agar tidak ada pengangguran yang disebabkan oleh ketidaksesuaian kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan yang dibutuhkan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus bisa menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten di sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja tinggi serta sektor-sektor yang potensial dalam menyerap tenaga kerja.

Permasalahan lain yang akan dihadapi Indonesia adalah pasca bonus demografi dimana seiring dengan berjalannya waktu terjadi pergeseran penduduk usia produktif menjadi lansia setelah tahun 2030. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tabungan pensiunan menjadi produk yang harus digalakkan untuk generasi-generasi usia produktif di masa bonus demografi sehingga setelah masa bonus demografi berakhir, penduduk lansia dapat memanfaatkan tabungan pensiunan untuk hidup di masa tua.

Bonus demografi merupakan suatu fenomena langka yang dapat mendatangkan keuntungan besar bagi suatu negara yang mengalaminya, namun juga dapat menjadi sebuah bencana. Indonesia yang akan menghadapi fenomena bonus demografi pada tahun 2020 sampai dengan 2030 harus bisa mengambil peluang untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat secara luas. Oleh karena itu, upaya untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia yang baik, menciptakan lapangan pekerjaan serta memaksimalkan fungsi tabungan pensiunan merupakan strategi-strategi yang dapat dilakukan oleh Indonesia untuk menghadapi bonus demografi.


Penulis:

Evia Zulfah  
(Lulusan Terbaik Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2016 | Research Assistant di Kementerian BUMN-RI)


____________

 
Copyright © MudaBicara! - Youth Community | Designed by OddThemes